RADAR SIDOARJO - Langit Desa Sedenganmijen, Kecamatan Krian, Sidoarjo, mendadak riuh oleh ribuan warga yang tumplek blek di lapangan desa, Minggu (1/2) pagi.
Bukan tanpa alasan, sebuah gunungan tempe raksasa setinggi 14 meter berdiri megah, menjadi pusat perhatian sekaligus simbol rasa syukur warga menjelang bulan suci Ramadan.
Tradisi tahunan bertajuk Ruwat Desa atau Sedekah Bumi ini sukses menyulap desa tersebut menjadi lautan manusia yang antusias berebut berkah.
Ikon utama kegiatan ini, tumpeng tempe setinggi belasan meter, dirakit dari sekitar tiga kuintal kedelai hasil swadaya para pengrajin lokal.
Tak hanya tempe, kemeriahan ditambah dengan kehadiran 31 tumpeng hasil bumi lainnya yang dibawa oleh masing-masing RT, mulai dari hasil pertanian hingga perikanan.
Kepala Desa (Kades) Sedengan Mijen Muhammad Hasanuddin menegaskan, tumpeng tempe ini bukan sekadar pajangan, melainkan identitas kuat desa sebagai sentra pengrajin tempe.
“Maknanya, gunungan tempe ini merupakan sebuah ikon. Jadi bukan sebuah makna, tetapi ikon merupakan sebuah lambang bahwa desa kita ini banyak penghasil atau pengrajin tempe,” ujar Muhammad Hasanuddin saat ditemui di lokasi acara.
Hasanuddin menambahkan bahwa para pengrajin secara sukarela menyumbangkan produk mereka sebagai bentuk sedekah kepada leluhur dan rasa syukur kepada Tuhan.
Menariknya, tradisi ini juga menjadi upaya mempertahankan eksistensi tempe lokal di tengah persaingan pasar. Meski jumlah pengrajin menyusut dari 50 orang pada 2018 menjadi 25 orang saat ini akibat persaingan harga, kualitas rasa tempe Sedengan Mijen diklaim tetap tak tertandingi.
“Harapan kita ini menjadi sebuah bentuk kebersamaan warga kita. Karena jarang ada waktu kita mempersatukan, membangun sebuah kebersamaan ini. Semoga kebersamaan ini akan terjaga selama-lamanya,” tambahnya.
Kegiatan yang telah terdaftar sebagai destinasi wisata resmi sejak tahun 2018 ini juga mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Sementara itu, Camat Krian Nawari yang hadir mewakili Pemkab, menyatakan rasa bangganya atas konsistensi desa dalam melestarikan budaya lokal.
“Alhamdulillah, atas nama pemerintah Kabupaten Sidoarjo saya memberikan apresiasi kepada Desa Sedengan Mijen yang telah melestarikan budaya lokal berupa ruwat desa yang ikonnya saat ini adalah tumpeng tempe,” kata Nawari.
Nawari juga menekankan bahwa tradisi ini telah diakui secara luas dan resmi masuk ke dalam rangkaian kegiatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167. Ia berharap inovasi semacam ini terus dikembangkan untuk mendongkrak ekonomi kreatif masyarakat desa.
“Ini alhamdulillah, berarti Desa Sedengan Mijen ini sudah maju selangkah dibandingkan desa-desa yang lain di wilayah Kecamatan Krian. Tentunya ini terus dikembangkan, dilestarikan, jangan sampai kendor,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista