RADAR SIDOARJO - Ancaman cuaca ekstrem diperkirakan masih membayangi wilayah Sidoarjo dalam 10 hari ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengeluarkan peringatan dini menyusul potensi hujan lebat yang disertai angin kencang dan berisiko memicu bencana hidrometeorologi.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menegaskan bahwa hingga akhir Januari merupakan periode dengan tingkat risiko cuaca ekstrem yang tinggi. Seluruh wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sidoarjo, telah memasuki puncak musim hujan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Dalam 10 hari ke depan, potensi cuaca ekstrem cukup signifikan dan dapat menimbulkan dampak seperti banjir, banjir bandang, angin kencang, hingga puting beliung,” ujar Taufiq, Jumat (23/1).
BMKG Juanda mencatat hampir seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur berpotensi terdampak cuaca ekstrem. Kabupaten Sidoarjo menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus karena rawan genangan dan banjir, terutama di kawasan permukiman padat penduduk.
Selain hujan lebat, masyarakat juga diminta mewaspadai dampak turunan lainnya, seperti jalan licin, pohon tumbang, berkurangnya jarak pandang, hingga terganggunya aktivitas transportasi. Wilayah dengan kontur curam atau yang berada di sekitar aliran sungai juga berisiko mengalami banjir bandang.
“Dalam periode dua pekan ke depan ini merupakan puncak musim hujan. Intensitas hujan dan angin kencang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, terutama pada sore hingga malam hari,” jelasnya.
Menurut Taufiq, potensi cuaca ekstrem di wilayah Sidoarjo dan kawasan aglomerasi Surabaya Raya dipicu oleh aktifnya monsun Asia. Selain itu, terdeteksi adanya pola pertemuan angin atau konvergensi serta gangguan atmosfer berupa gelombang Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur.
“Berdasarkan pengamatan radar, terdapat pola konvergensi dan gangguan atmosfer yang memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, khususnya pada sore hingga malam hari,” terangnya.
BMKG Juanda juga mendeteksi potensi pengaruh Madden Julian Oscillation (MJO) yang diperkirakan melintasi Jawa Timur. Kondisi ini diperkuat oleh suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih hangat serta kondisi atmosfer lokal yang labil, sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif secara signifikan.
“Perubahan cuaca bisa terjadi sangat cepat. Kami mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi resmi BMKG, termasuk melalui citra radar cuaca WOFI dan peringatan dini yang diperbarui secara berkala,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista