Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Kanker Serviks Mengintai Perempuan, Dinkes Sidoarjo Ajak Tes Skrining HPV DNA

Diky Putra Sansiri • Senin, 15 Desember 2025 | 22:14 WIB
Plt Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina
Plt Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina

RADAR SIDOARJO - Ancaman kanker serviks masih menjadi bayang-bayang serius bagi perempuan di Kabupaten Sidoarjo. Meski penyakit ini dapat dicegah dan dideteksi sejak dini, cakupan skrining kanker leher rahim di daerah tersebut masih jauh dari target nasional.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo menunjukkan, dari ratusan ribu perempuan usia rentan, baru sebagian kecil yang telah menjalani pemeriksaan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengungkapkan bahwa kanker serviks hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan di dunia.

“Kanker serviks sering kali baru terdeteksi saat sudah berada pada stadium lanjut. Hal inilah yang menyebabkan angka kematian masih tinggi, padahal penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dan ditemukan lebih awal melalui skrining,” ujar dr. Lakhsmie kepada Radar Sidoarjo, Senin (15/12).

Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer (IARC) WHO tahun 2023, kanker serviks tercatat sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan secara global.

Di Kabupaten Sidoarjo, kondisi tersebut tercermin dari masih rendahnya cakupan skrining. Sepanjang tahun 2024, dari total 353.978 perempuan usia 30–50 tahun, baru sekitar 29,7 persen yang menjalani skrining IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).

Dari hasil pemeriksaan tersebut, sebanyak 341 orang atau sekitar 0,32 persen dinyatakan IVA positif, 65 orang dicurigai menderita kanker serviks, 22 orang menjalani tindakan krioterapi di puskesmas, serta 406 orang dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL).

“Angka ini menunjukkan bahwa cakupan skrining kita masih sangat rendah. Padahal Kementerian Kesehatan menargetkan 90 persen perempuan usia 30–50 tahun sudah menjalani skrining kanker serviks pada tahun 2024,” jelasnya.

Sebagai upaya menekan angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks, pemerintah telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023–2030. Salah satu pilar utamanya adalah peningkatan skrining dengan metode HPV DNA.

Menurut dr. Lakhsmie, metode HPV DNA memiliki keunggulan dibandingkan Pap Smear.

“HPV DNA mendeteksi langsung keberadaan DNA virus HPV di leher rahim, sedangkan Pap Smear melihat perubahan sel yang sudah mengalami kerusakan. Artinya, HPV DNA dapat mendeteksi risiko lebih dini sebelum berkembang menjadi kanker,” terangnya.

Ia menambahkan, sekitar 99,7 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Pada perempuan yang aktif secara seksual dan terinfeksi HPV, sekitar 75–80 persen dapat sembuh secara spontan. Namun, sekitar 10–25 persen mengalami infeksi HPV persisten yang berpotensi berkembang menjadi kanker.

“Rendahnya kesadaran masyarakat membuat banyak perempuan baru datang berobat saat kondisi sudah stadium lanjut. Pada tahap ini, respons terhadap pengobatan menjadi kurang optimal,” imbuhnya.

Dinkes Sidoarjo terus mendorong perempuan usia produktif untuk tidak takut menjalani skrining, terutama skrining HPV DNA yang kini mulai diperluas. Selain itu, program vaksinasi HPV juga terus digencarkan sesuai RAN, meski saat ini masih difokuskan pada anak kelas 5 dan 6 SD serta kelas 3 SMP.

“Kami mengajak seluruh perempuan di Sidoarjo untuk lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi. Deteksi dini adalah kunci utama. Jangan menunggu sakit, karena kanker serviks dapat dicegah dan disembuhkan jika ditemukan sejak awal,” pungkasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#Tes #serviks #Dinkes #Kanker #skrining