RADAR SIDOARJO - Warga Desa Klurak, Kecamatan Candi, Sidoarjo, mengeluhkan kondisi air sumur yang berubah warna dan berbau tak sedap sejak sebulan terakhir. Air yang biasanya jernih kini tampak keruh, licin saat terkena kulit dan menimbulkan bau menyengat.
Diduga pencemaran air sumur dipicu aliran sungai di sisi selatan desa yang kerap tercemar limbah saat musim giling. Warga menyebut, setiap musim giling selalu muncul masalah serupa.
“Kalau musim giling, air sumur pasti kotor, warnanya berubah, licin dan baunya tidak enak,” ucap warga RT 7 RW 2, Djoni, Rabu (10/9).
Menurutnya, masalah tersebut sudah berulang hampir setiap tahun. Saat musim giling, kualitas air sumur warga dipastikan menurun drastis.
Akibatnya, warga terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Mulai dari memasak, mencuci, mandi hingga kebutuhan ternak.
Kondisi itu jelas memberatkan warga karena berlangsung terus-menerus setiap musim giling. ”Saya habis 20 ribu tiap hari untuk beli air bersih,” ungkapnya.
Hal sama dirasakan warga RT 4 RW 2, Sugiono. Dia merasa kerepotan mencari air bersih untuk kebutuhan ternaknya. ”Saya punya empat sapi, pas air sumur kotor ini sapi-sapi saya gak mau minum,” katanya.
Sugiono akhirnya membeli air galon untuk memberi minum dan memandikan sapi. Setiap hari ia menghabiskan lima hingga tujuh galon air bersih hanya untuk ternaknya.
Galon tersebut belum termasuk kebutuhan keluarganya di rumah. ”Kalau dihitung-hitung, biayanya cukup besar, karena setiap hari,” keluhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo, Bahrul Amig mengaku sudah mengecek ke lokasi bersama Camat Candi. Dia melihat, air yang dimaksud warga benar-benar kotor.
“Ada pantauan kotor, dan kami akan coba ke pabrik gula tersebut memantau soal pengelolaan limbah,” terangnya.
Pihaknya juga mengambil sampel air sumur warga untuk diperiksa di laboratorium. ”Kami akan cek dulu, baru bisa diberikan tindak lanjutnya seperti apa,” pungkasnya. (sai/gun)
Editor : Guntur Irianto