Oleh: Hj. dr. Puput Fiohana, M.Kes., FISQua
Alumnus Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Airlangga
RSI Siti Hajar Sidoarjo
RADAR SIDOARJO - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program inisiatif skala nasional pertama dalam bidang pemenuhan gizi yang dicanangkan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
Target program ini mencakup 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Program ini resmi diluncurkan pada tanggal 6 Januari 2025.
Dalam pelaksanaannya, bahan makan yang diolah juga menggunakan sumber pangan lokal. Melalui Perpres Nomor 83 Tahun 2024, pemerintah menunjuk Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjalankan tugas dalam pemenuhan gizi nasional. Empat kelompok sasarannya di antaranya:
- Pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di lingkungan pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan keagamaan, pendidikan khusus, pendidikan layanan khusus, dan pendidikan pesantren.
Pada kelompok ini, program menyasar anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, di mana gizi yang cukup sangat penting untuk mendukung proses belajar dan perkembangan kognitif mereka. - Anak usia di bawah lima tahun. Kelompok ini termasuk menjadi sasaran utama program makan bergizi gratis lantaran balita merupakan periode kritis dalam tumbuh kembang anak. Kekurangan gizi pada masa periode pertumbuhan ini dapat menyebabkan dampak yang tidak dapat dipulihkan.
- Ibu hamil. Pemenuhan gizi pada ibu hamil juga sangat penting. Gizi yang baik selama kehamilan memberi perlindungan bagi ibu hamil dan janin sebab dapat mencegah komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, serta stunting pada bayi.
- Ibu menyusui. Gizi yang cukup pada ibu menyusui penting untuk produksi ASI yang berkualitas dan tumbuh kembang bayi yang optimal. Oleh sebab itu, kelompok ibu menyusui juga penting untuk diperhatikan dan menjadi sasaran program pemenuhan gizi oleh pemerintah.
Lantas, bagaimana program ini dapat berjalan secara efektif dan efisien serta tepat pada sasaran tentunya diperlukan mekanisme monitoring dan evaluasi secara sistematis, terukur dan berkesinambungan baik dilakukan secara langsung (offline), maupun tidak langsung (online).
Proses pelaporan dan pemantauan dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang ada, misalnya dengan membuat suatu wadah dokumen tersentral yang berisi laporan foto, video, absensi, hingga tabel pemantauan yang dapat diakses secara live dan dimonitor bersama secara berkala baik bagi penerima program dan pihak-pihak (stakeholder) terkait. Sedangkan hal-hal yang dimonitoring di antaranya:
- Kualitas Gizi Makanan, monitoring dilakukan dengan memastikan kualitas makanan yang disajikan mulai dari pemilihan bahan makanan yang berkualitas, variasi menu sesuai prinsip gizi seimbang (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral), proses pengolahan hingga makanan tersebut dinyatakan aman dan higienis untuk dikonsumsi, kesesuaian porsi dengan kebutuhan sesuai dengan kelompok umur dan target sasaran.
- Frekuensi dan Konsistensi Pelaksanaan, dengan memperhatikan seberapa sering dan seberapa lama serta konsistensi program makan bersama ini dilakukan, sehingga dapat memberikan dampak yang optimal bagi penerima program Makan Bersama Gratis.
- Keterlibatan penerima program. Dengan adanya monitoring melalui absensi, tingkat kerutinan kehadiran sasaran program MBG, sehingga diharapkan dapat menghasilkan output yang sesuai dengan harapan.
- Pengelolaan dan Distribusi, monitoring proses pengelolaan program MBG secara menyeluruh dari hulu ke hilir, sehingga dapat diketahui efektivitas pendistibusian makanan, transparansi penggunaan anggaran dan sumber daya.
Metode evaluasi pemberian gizi pada program MBG dapat dilakukan dengan cara:
- Pengukuran status gizi penerima program, dapat berupa antropometri (pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA) dan indeks masa tubuh (IMT).
- Survei konsumsi pangan, dapat menggunakan metode food recall 24 jam maupun food frequency questionnaire (FFQ) untuk menilai pola makan.
- Pemeriksaan biokimia sederhana, misalnya darah lengkap, kadar hemoglobin untuk mengetahui status anemia.
- Survei kepuasan penerima program, dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner maupun wawancara singkat seperti kualitas makanan, komposisi, kenyamanan dan kebermanfaatan program.
Selain itu, indikator dari monitoring dan evaluasi yang dapat digunakan di antaranya:
- Input: jumlah anggaran, bahan makanan, dan tenaga pelaksana
- Proses: frekuensi kegiatan makanbersama yang terlaksana
- Output: jumlah penerima manfaat yang hadir sesuai target
- Outcome: perbaikan status gizi penerima program
- Impact: penurunan prevalensi gizi kurang
Kebijakan makan bergizi gratis, diharapkan terus dapat diterapkan secara menyeluruh menjadi suatu program yang berkelanjutan. Dengan memberikan nutrisi dan gizi yang baik serta optimal, generasi cemerlang yang sehat, produktif dan berkualitas dapat terbentuk untuk menunjang pembangunan bangsa. (*)
Editor : Vega Dwi Arista