RADAR SIDOARJO - Suasana berbeda tampak di SDN Sidokerto, Buduran pada hari pertama masuk sekolah, Senin (14/7). Sebanyak 93 siswa kelas I memulai tahun ajaran baru dengan mengenakan seragam sekolah mereka untuk pertama kalinya.
Namun yang menarik perhatian adalah kehadiran sembilan siswa inklusi yang ikut serta dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kesembilan siswa inklusi tersebut didampingi secara langsung oleh guru pendamping khusus (SEDO) selama kegiatan berlangsung. Mereka dibagi ke dalam tiga rombongan belajar (rombel) kelas I, dengan masing-masing kelas berisi tiga siswa inklusi.
Sejak pagi, para guru menyambut hangat kedatangan siswa baru. Sementara itu, siswa inklusi mendapatkan pendampingan personal dari guru SEDO yang duduk bersebelahan dengan mereka di dalam kelas. Meski mendampingi secara langsung, keberadaan guru SEDO tidak mengganggu jalannya materi MPLS yang diberikan oleh guru kelas.
“Setiap anak inklusi memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang masih kesulitan membaca dan menulis. Namun kami dampingi terus sampai mereka bisa mengikuti pelajaran secara mandiri,” ungkap Kepala SDN Sidokerto, Nur Rahma, saat ditemui Radar Sidoarjo.
Total, SDN Sidokerto saat ini memiliki 47 siswa inklusi yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI. Beberapa di antaranya sudah menunjukkan kemandirian dalam belajar dan tidak lagi membutuhkan pendampingan khusus.
“Mereka tetap belajar bersama siswa reguler. Saat guru menjelaskan materi umum, guru SEDO akan menyederhanakan atau mengulang penjelasan agar lebih mudah dipahami oleh siswa inklusi,” tambah Nur Rahma.
MPLS di SDN Sidokerto dijadwalkan berlangsung selama dua minggu. Kegiatannya bersifat ringan dan bertahap, meliputi perkenalan diri, pengenalan ruang kelas, kebiasaan sehari-hari seperti doa bersama, hingga kegiatan Jumat Barokah.
Pendampingan yang diberikan guru SEDO tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga membantu siswa inklusi dalam membangun rasa percaya diri dan menyesuaikan diri dengan ritme kegiatan sekolah.
Sebagai sekolah inklusi, SDN Sidokerto telah beberapa tahun terakhir membuka ruang belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Penerimaan dari siswa reguler terhadap siswa inklusi pun terbilang sangat baik.
“Alhamdulillah, tidak ada yang membully. Anak-anak di sini sudah terbiasa menerima perbedaan,” ujar Nur Rahma.
Ia menambahkan, interaksi positif sering terlihat di kelas. Bahkan, beberapa siswa reguler tampak spontan membantu teman inklusi mereka tanpa disuruh.
“Hal itu menunjukkan bahwa jika lingkungan sekolah dibentuk ramah sejak awal, maka interaksi sosial yang sehat akan tumbuh dengan sendirinya,” katanya.
Pada hari pertama, pihak sekolah membatasi kehadiran orang tua hanya sampai depan kelas. Tujuannya, agar siswa bisa belajar mandiri sejak dini.
“Yang penting untuk dipahami, guru SEDO itu mendampingi, bukan menunggui. Kami ingin semua siswa berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing,” pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista