RADAR SIDOARJO - Warga Desa Prasung, Kecamatan Buduran mempunyai cara tersendiri dalam merawat nilai warisan leluhur. Setiap bulan Muharram, mereka kompak menggelar tradisi Suronan.
Tradisi tersebut dilakukan dengan membersihkan makam para sesepuh. Mulai dari menyapu area pemakaman, mengganti kain nisan hingga tabur bunga.
Kepala Desa Prasung, Ahmad Syafii mengatakan, tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat tidak boleh tercerabut dari akarnya. “Jangan sampai generasi muda melupakan jejak nilai-nilai yang sudah ditanamkan para leluhur,” ucapnya, Minggu (13/7).
Tak hanya bersih-bersih makam, warga juga menggelar tumpengan dan arak-arakan gunungan. Semua dilakukan dengan gotong-royong, dari anak-anak hingga orang tua semuanya terlibat.
Menurutnya, kegiatan tersebut punya banyak makna. Mulai dari sisi ketatanegaraan, kemasyarakatan hingga spiritualitas.
“Dalam aspek ketatanegaraan, ini menunjukkan masyarakat sadar akan hak dan kewajiban, guyub dan saling membantu,” ujarnya.
Di tengah zaman yang serba cepat, nilai-nilai paguyuban semakin langka. Pihaknya ingin nilai kekompakan warga Prasung tetap tumbuh.
“Sekarang ancamannya itu justru soal kebersamaan, kita tidak ingin masyarakat jadi manja," katanya.
Tokoh masyarakat yang juga Kepala DLHK Sidoarjo, Bahrul Amig juga terlibat langsung dalam kegiatan itu. Dia menyebut, tradisi Suronan sebagai wujud syukur dan rasa cinta terhadap warisan budaya.
“Membersihkan makam itu bukan sekadar fisik, tapi menghidupkan kembali semangat bahwa leluhur pernah hidup dan berjasa,” terangnya.
Salah satu sesepuh yang dimuliakan adalah makam Mbah Sholeh. Dia merupakan tokoh yang diyakini sebagai wali dan panutan spiritual.
"Kami ingin, kegiatan seperti ini bisa jadi inspirasi untuk desa lain, khususnya dalam menjaga aset paling mahal yakni masyarakat yang guyub rukun," katanya.
“Kebersamaan itu bukan cuma saat kerja bakti, tapi juga saat makan bersama, di situ muncul cengkrama dan syukur,” pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista