RADAR SIDOARJO - Kenaikan harga beras dalam sebulan terakhir di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Sidoarjo membuat para pedagang kelimpungan dan konsumen semakin terbebani.
Di Pasar Larangan, Kecamatan Candi, harga beras premium kini tembus Rp 14.600 per kilogram (kg). Sebelumnya, harga masih berada di kisaran Rp 14.000–Rp 14.300 per kg, tergantung merek. Tak hanya itu, harga beras medium juga ikut naik dari Rp 13.100 menjadi Rp 13.400 per kg.
Kenaikan ini berdampak langsung pada volume penjualan. Iva, seorang agen beras di Pasar Larangan, mengaku penjualannya turun drastis sejak harga mulai merangkak naik.
"Biasanya saya bisa menjual hingga 20 ton per hari, sekarang hanya sekitar enam sampai tujuh ton saja," ungkapnya saat ditemui Radar Sidoarjo, Kamis (10/7).
Menurutnya, konsumen mulai enggan membeli dalam jumlah besar karena harga terus naik tanpa alasan yang jelas.
"Dampaknya, pembeli jadi berkurang," imbuhnya.
Hal serupa disoroti Himpunan Pedagang Pasar (HPP) Kabupaten Sidoarjo. Ketua HPP, Nur Hasan Zakaria, menyebut kenaikan harga ini sebagai hal yang janggal, terlebih di tengah klaim surplus produksi beras nasional yang mencapai empat juta ton.
"Ada yang tidak wajar. Kalau memang stok nasional surplus, seharusnya harga bisa stabil atau bahkan turun. Kami menduga ada permainan oleh mafia beras," tegasnya.
Selain soal harga, Nur Hasan juga menyoroti kelangkaan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dari Bulog di pasar-pasar tradisional. Dalam tiga hingga enam bulan terakhir, beras SPHP yang dijual dengan harga lebih terjangkau, sekitar Rp 60.000 per lima kilogram, nyaris tidak lagi tersedia.
"Kami berharap distribusi beras SPHP dari Bulog bisa kembali digencarkan ke pasar-pasar. Pemerintah harus hadir dan turun tangan," ujarnya.
HPP pun mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Bulog, untuk segera mengintervensi pasar dan memastikan ketersediaan beras SPHP yang lebih terjangkau bagi masyarakat. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista