RADAR SIDOARJO - Musim libur sekolah membawa berkah tersendiri bagi para pengrajin layang-layang di Sidoarjo. Salah satunya Ahmad Rifai, pengrajin asal Desa Simoangin-angin, Kecamatan Wonoayu, yang mengaku kebanjiran pesanan hingga kewalahan memenuhi permintaan.
"Permintaan layang-layang selama libur sekolah luar biasa. Sudah penuh sejak awal musim, saya benar-benar kewalahan," ujarnya, Selasa (1/7/2025).
Rifai menyebut, jenis layangan yang paling banyak diminati tahun ini adalah papiran, sawangan, dan layangan aduan. Ketiga jenis itu populer karena cocok dimainkan saat angin sedang kencang, seperti sekarang.
"Kalau dibandingkan tahun lalu, musim ini jauh lebih ramai. Penjualan layangan aduan naik hingga 300 persen," jelasnya.
Dalam sehari, Rifai bisa menjual ratusan layangan. Selama musim layang-layang, jumlah penjualan bisa tembus ribuan unit. Pesanan datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, hingga Probolinggo.
"Hampir seluruh wilayah Jawa Timur sudah pernah pesan ke sini," tambahnya.
Meski permintaan tinggi, Rifai mengaku belum bisa melayani pesanan dari luar provinsi karena keterbatasan tenaga produksi. Untuk harga, layangan aduan dijual mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 10.000 per buah, tergantung ukuran dan jenisnya. Sementara layangan hias dibanderol antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per buah, tergantung motif dan tingkat kesulitannya.
Salah satu pembeli, Aini, warga Sedati, mengaku membeli hingga 400 buah layangan jenis sambitan untuk dijual kembali.
"Musim seperti ini pasti laku. Anak-anak sedang senang main layangan aduan," katanya.
Tak hanya dari Sidoarjo, pembeli juga datang dari luar kota. Hartono, warga Kecamatan Wringinanom, Gresik, mengaku rutin berbelanja layangan dan benang gelasan ke tempat Rifai.
"Saya beli 50 layang-layang seharga Rp 950 dan juga benang gelasan. Setiap hari kulakan di sini, alhamdulillah kadang bisa untung Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta," ujarnya.
Tingginya permintaan di musim libur sekolah ini menunjukkan bahwa layang-layang masih menjadi hiburan favorit masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, di tengah maraknya permainan digital. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista