SIDOARJO - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang ternak sapi milik Saifulloh, seorang peternak asal Desa Anggaswangi, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Sebanyak 11 ekor sapi dinyatakan positif terjangkit PMK, dengan dua di antaranya mati.
Kematian pertama terjadi awal Februari 2025, diikuti oleh kematian kedua beberapa hari kemudian. Hingga kini, sembilan sapi milik Saifulloh di Desa Anggaswangi, Sukodono, Sidoarjo, masih terjangkit PMK dan dalam kondisi kritis.
"Awal Februari kemarin, satu ekor mati, disusul kematian yang kedua sekitar tiga hari kemudian. Yang sekarang di kandang ada sembilan ekor sapi yang sakit akibat PMK. Dua sapi mati sudah saya kubur di lahan belakang dekat kandang sini," ungkap Saifulloh ke Radar Sidoarjo, Jumat (21/2).
Menurutnya, penyebaran PMK di peternakannya bermula saat ia membeli beberapa ekor sapi dari pasar hewan di Probolinggo pada akhir Januari 2025.
Nah, lanjut dia, pada saat pembelian, sapi-sapi tersebut tampak sehat tanpa ada tanda-tanda penyakit. Namun, tiga hari setelah sampai di kandang, salah satu sapi mulai mengalami demam tinggi, diikuti oleh sapi-sapi lainnya yang menunjukkan gejala khas PMK.
"Waktu beli, saya amati sapi sehat dan tidak ada tanda-tanda sakit. Tapi begitu dibawa pulang, tiga hari kemudian, sapi saya demam tinggi. Setelah itu, sapi yang lain juga jatuh sakit dengan ciri-ciri persis PMK," keluhnya.
Saifulloh, yang telah menekuni usaha peternakan sapi sejak tahun 2008, mengaku baru kali ini peternakannya diserang oleh PMK.
Oleh karenanya, ia khawatir penyakit ini akan menular lebih cepat ke sapi-sapi jenis simental dan limousin miliknya yang masih sehat. Namun, keterbatasan ruang di kandangnya membuat ia tidak bisa memisahkan sapi yang sehat dari yang sakit.
"Sapi sehat ada 15 ekor, jenis simental dan limousin. Sapi yang sakit ada 9 ekor. Jadi total ada 24 ekor sapi. Semuanya campur di satu kandang karena saya tidak punya kandang lain. Lahan saya ya cuma segini, jadi terpaksa dicampur," terangnya.
Kerugian yang dialaminya akibat dua sapi mati mencapai Rp 32,5 juta. Sementara itu, kondisi sapi yang terjangkit PMK terus memburuk. Mulut mereka mengeluarkan busa, dan terdapat luka terbuka pada lubang hidung serta kuku kaki. Beberapa sapi juga mengalami pembusukan pada kuku mereka.
"Sapi yang sakit itu sekarang hanya bisa ndeprok (terpuruk) dan tidak kuat berdiri. Kalau mau dibangunkan harus dibantu. Mulutnya berbusa dan lendir terus keluar, tanda sakit dan nggak mau makan. Di belahan kuku ada yang sudah busuk, bahkan ada yang mengeluarkan darah," imbuhnya.
Ia semakin resah karena upayanya meminta bantuan vaksin PMK kepada pemerintah daerah tidak mendapatkan respon yang memuaskan. Menurut petugas, sapi yang sakit tidak boleh divaksin hingga sembuh terlebih dahulu.
"Saya pernah minta vaksin PMK yang katanya gratis, tapi petugas bilang, sapi yang sakit nggak boleh divaksin dulu, nunggu sembuh. Kalau sudah sehat baru divaksin," ujar Saifulloh, menirukan jawaban dari petugas dinas kesehatan hewan.
Karena tak ingin sapinya yang lain tertular, ia terpaksa membeli vaksin secara mandiri meski harganya cukup mahal. Ia berharap ada bantuan vaksin gratis dari pemerintah untuk meringankan beban para peternak yang sapinya terkena PMK.
"Saya sempat beli vaksin PMK sendiri, harganya sekitar Rp 500 ribu," tutupnya.
Peternak sapi asal Desa Anggaswangi, Sukodono, Sidoarjo, ini berharap bisa mendapatkan bantuan vaksin PMK yang sudah disediakan oleh pemerintah. (dik/gun)
Editor : Guntur Irianto