SIDOARJO - Menjelang Tahun Baru Imlek 2576, umat Konghucu di Kelenteng Tri Dharma Teng Swie Bio, Krian, Sidoarjo, menggelar ritual memandikan patung dewa-dewi. Tradisi tersebut merupakan momen penting bagi umat Tri Dharma dalam menyambut Tahun Ular Kayu.
Ketua Kelenteng Teng Swie Bio, Krian, Sidoarjo, Lilian Anggraheni mengatakan, prosesi dimulai dengan mengantar dewa-dewi ke surga melalui doa. Ritual ini dilakukan jelang perayaan Imlek, agar perjalanan para dewa-dewi diberkahi sebelum dimandikan.
"Kami mengantar dewa-dewi terlebih dahulu dan mendoakan agar perjalanan mereka dimudahkan, setelah itu dimandikan sebagai simbol pembersihan, seperti manusia yang harus membersihkan dirinya," ucap Lilian, Minggu, (26/1).
Memandikan patung atau rupang dilakukan dengan menggunakan air suci. Hal itu sebagai wujud bakti umat.
"Dari 11 rupang, salah satunya merupakan rupang tertua yang diwariskan oleh nenek moyang kami, rupang tertua ini sudah termakan usia, sehingga bentuknya tidak utuh lagi, tetapi kami tetap merawatnya sebagai penghormatan kepada leluhur," ujarnya.
Tidak hanya membersihkan patung dewa-dewi, tetapi juga menyucikan tempat ibadah secara keseluruhan. Area klenteng dihias dengan berbagai ornamen, seperti lampion merah, bunga dan lilin.
Baginya, memandikan rupang memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Selain sebagai penghormatan kepada para dewa-dewi, momen tersebut juga menjadi refleksi untuk menyucikan hati dan pikiran.
"Ritual ini mengajarkan kami akan pentingnya menjaga kebersihan lahir dan batin," jelasnya.
Tradisi memandikan rupang menjadi ajang untuk mempererat hubungan sosial. Mereka yang turut serta menghias klenteng membawa suasana harmonis antar umat.
"Ritual jelang perayaan Imlek ini menjadi simbol kebersihan, harmoni dan harapan akan tahun yang lebih baik bagi seluruh umat," pungkasnya saat membersihkan patung dewa-dewi di Kelenteng Teng Swie Bio, Krian, Sidoarjo . (sai/gun)
Editor : Guntur Irianto