SIDOARJO - Akibat jembatan ambruk di Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, membuat perekonomian warga sekitar terganggu. Karena mayoritas warga Kedungpeluk merupakan petani tambak.
Sehingga, petani tambak yang akan mengirim hasil tambaknya ke pasar maupun pembeli harus mengoper drum berisi ikan maupun udang ke geledekan. Dampaknya membuat bisnis mereka terancam rugi.
Saat dikonfirmasi di lokasi, Jumat (19/7), petani udang Muhammad Usman mengatakan, apabila jembatan tidak kunjung diperbaiki, usaha yang digelutinya ini bakal terancam bangkrut.
Pasalnya, waktu pengiriman udang yang akan diekspor tersebut harus tepat waktu. Akibat jembatan ambruk, membuat pengiriman udang menjadi terhambat dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Udang yang akan diekspor harus dioper menggunakan geledekan untuk melintasi jalan setapak. Pengoperan itu memakan waktu dan menambah biaya," ujar pria 47 tahun itu.
Menurutnya, warga Kedungpeluk sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani tambak, di antaranya ikan bandeng dan udang. Dengan ambruknya jembatan, kini jalur roda empat terputus total.
"Roda dua bisa lewat jalan damp yang kecil itu, kalau roda empat sudah tidak bisa sama sekali. Kami berharap jembatan agar segera diperbaiki, agar kondisi perekonomian warga sekitar kembali normal," harapnya.
Sebelumnya, petani udang Kusnadi mengaku terganggu dengan ambruknya jembatan penghubung Desa Kedungpeluk. Pasalnya, jembatan tersebut merupakan lintasan sehari-harinya ketika menuju ke pasar.
"Pastinya sangat terganggu, untuk menuju ke pasar mengantar udang akhirnya kewalahan, membutuhkan dua kali kerja," keluh pria berusia 45 tahun itu.
"Biasanya naik pikap, berhubung jembatan ambruk akhirnya dioper pakai geledekan, biasanya pukul 15.00 sudah selesai, ini sampai Maghrib," imbuhnya.
Dia berharap, jembatan tersebut agar segera diperbaiki. Supaya perekonomian di Desa Kedungpeluk kembali lancar dan normal.
Hal senada disampaikan Kades Kedung Peluk Muhammad Madenan, mayoritas warganya merupakan petani tambak. Namun karena akses satu-satunya ini ambruk, transportasi para petani tambak menjadi terganggu.
"85 persen merupakan petani tambak, mereka hanya mengandalkan hasil tambak. Bahkan, hasil dari panen tambak ada yang diekspor ke luar negeri. Ada yang ke Jepang, Thailand dan Singapura," paparnya.
Dia berharap, agar jembatan dapat segera diperbaiki oleh pihak terkait. Karena dengan ambruknya jembatan membuat ekspor petani tambak menjadi terhambat. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista