SIDOARJO - Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat membuat cara pandang anak muda pun ikut berubah. Apalagi di era serba digital generasi muda lebih familiar dengan budaya asing, seperti K-Pop, anime dan lain sebagainya.
Bilamana kondisi tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin budaya asli akan punah. Dan kearifan lokal tak terwariskan ke anak cucu.
Sidoarjo sendiri memiliki ragam budaya dan kearifan lokal. Salah satunya wayang kulit Gagrak Porongan.
Menanggulangi punahnya budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Sidoarjo, mulai gencar mengadakan roadshow pagelaran wayang gagrak. Ada 12 kali acara wayang kulit Gagrak Porongan yang bakal dilaksanakan di berbagai kecamatan di Kota Delta.
“Tugas kami yaitu menggali dan melestarikan seni budaya yang ada di wilayah Kota Delta,” ucap Kepala Dispendikbud Sidoarjo, Tirto Adi.
Tirto bangga dengan kesenian asli Sidoarjo. Oleh karenanya ia mendorong supaya kegiatan tidak hanya praktik saja, tetapi juga ditulis dijadikan sebuah karya buku.
“Supaya generasi muda mengenal kesenian wayang Gagrak Porongan, karena ini warisan leluhur bangsa yang harus terus dijaga dan dilestarikan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Rangkah Kidul, Warlheiyono mengaku senang ada pagelaran budaya di desa yang dipimpinnya. Baginya menjaga budaya adalah hal yang penting dan terus dilestarikan.
"Mari kita jaga budaya warisan leluhur, supaya anak cucu kita di masa depan tahu darimana asalnya," pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista