Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

3 Nama Desa Unik di Sidoarjo, Begini Cerita di Baliknya

Annisa Firdausi • Selasa, 2 Juli 2024 | 15:00 WIB
Dusun Bokong Duwur yang ada di Desa Klamtingsari, Kecamatan Tarik. (IST)
Dusun Bokong Duwur yang ada di Desa Klamtingsari, Kecamatan Tarik. (IST)

SIDOARJO - Sidoarjo tak hanya terkenal dengan wisata lumpurnya. Di balik hiruk pikuk modernitas, Sidoarjo menyimpan pesona budaya dan sejarah yang terukir dalam nama-nama desanya.

Nama-nama unik ini tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi pengingat akan cerita rakyat dan identitas bagi masyarakat setempat.

Berikut 3 nama daerah di Sidoarjo yang unik beserta cerita menarik di baliknya:

Desa Durungbedug di Kecamatan Candi. (IST)
Desa Durungbedug di Kecamatan Candi. (IST)

1. Durungbedug: Suara Beduk Penanda Waktu Dhuhur

Di Desa Durungbedug, Kecamatan Candi, terdapat legenda tentang seorang petani yang membuka lahan di tengah hutan. Setiap pagi, dia bekerja keras hingga menjelang waktu salat duhur, yang ditandai dengan bunyi beduk.

Karena kelelahan, dia tak kuasa melanjutkan pekerjaannya dan menamakan tempat itu "Durungbedug", yang berarti "sebelum beduk".

Dusun Janganasem yang ada di Desa Trompoasri, Kecamatan Jabon. (IST)
Dusun Janganasem yang ada di Desa Trompoasri, Kecamatan Jabon. (IST)

2. Janganasem: Bukan Sayur Asem, Tapi Legenda Kijang

Dusun Janganasem di Desa Tromposari, Kecamatan Jabon, bukan berarti tempat yang banyak menjual sayur asem. Konon, nama ini berasal dari legenda seekor kijang (menjangan) yang mati di bawah pohon asem. Seiring waktu, "Menjangan Asem" berubah menjadi "Janganasem".

Dusun Bokong Duwur yang ada di Desa Klamtingsari, Kecamatan Tarik. (IST)
Dusun Bokong Duwur yang ada di Desa Klamtingsari, Kecamatan Tarik. (IST)

 

3. Dusun Bokong Duwur dan Bokongisor: Cerita Unik dari Sungai Brantas

Nama Bokong Duwur dan Bokongisor di Desa Klantingsari, Kecamatan Tarik mengundang tawa karena artinya "pantat atas" dan "pantat bawah".

Ada dua versi legenda yang beredar. Pertama, tentang mayat-mayat yang mengambang di Sungai Brantas dan terlihat seperti pantat. Kedua, tentang orang-orang yang menyeberang sungai dengan mengangkat rok, sehingga pantat mereka terlihat.

Nama-nama unik ini tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi pengingat akan cerita rakyat dan budaya Sidoarjo yang kaya. Keberadaannya menjadi bukti sejarah dan identitas bagi masyarakat setempat.

Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, dr. Sudi Harjanto memaparkan, munculnya nama-nama desa tentu tidak lepas dari pengaruh era Mataraman atau pasca-runtuhnya era Majapahit.

Menurut dia, penamaan satu wilayah, biasanya ditentukan oleh beberapa hal. "Di antaranya vegetasi yang dominan di situ apa, tokoh dominannya siapa, nama-nama kuno, atau bahkan berasal dari peristiwa," paparnya.

Diakuinya, tidak mudah mengungkap nama-nama dari satu daerah. Riset yang dilakukan berdasar dari banyak sumber. Bisa berupa naskah perjanjian satu wilayah, peta yang dibuat Belanda atau bahkan berdasar pada kejadian yang terjadi saat itu.

Soal nama-nama daerah yang unik seperti Bokongduwur, Bokongngisor, Durung Beduk dan Jangan Asem, dia menuturkan bahwa bisa jadi apa yang menjadi cerita tutur di masyarakat adalah benar. Namun bisa jadi ada yang perlu diluruskan.

"Nama Dusun Bokong dan Dusun Jangan Asem yang ada di Kecamatan Tarik dan Jabon, Sidoarjo hingga saat ini masih menjadi riset teman-teman pegiat sejarah. Namun yang perlu diketahui, dua nama dusun tersebut sudah ada di peta sejarah sejak Tahun 1800-an," pungkasnya. (nis)

Editor : Annisa Firdausi
#Asal-usul #legenda #Cerita Rakyat Anak Hijau #nama desa unik #Budaya dan Sejarah