SIDOARJO - Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sidoarjo kian marak. Dalam tiga bulan terakhir, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo menemukan 1.170 kasus TBC. Hal itu disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Sidoarjo dr M Abdilah Asegaf.
"Semakin banyak kasus TBC yang ditemukan, semakin baik. Artinya, para penderita Tuberkulosis tersebut dapat langsung ditangani, sehingga tidak sampai menular," katanya.
Menurutnya, peningkatan kasus ini menunjukkan keseriusan Pemkab Sidoarjo dalam melakukan deteksi dan penanganan TBC. Hal itu dibuktikan dengan pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) terduga tuberkulosis yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2021, capaian SPM terduga TBC di Sidoarjo sebesar 44 persen. Pada 2022 naik menjadi 131 persen, dan di 2023 mencapai 132 persen.
Dinkes Sidoarjo terus melakukan berbagai upaya penanganan TBC, termasuk kolaborasi dengan pihak terkait. Pada 2023, penanganan TBC di Sidoarjo sudah mencapai 90 persen.
Di sisi lain, pihaknya melakukan beberapa upaya penanganan TBC di Sidoarjo. Seperti skrining TBC secara masif dan sosialisasi kepada masyarakat untuk segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami gejala TBC. Serta ada juga upaya pemberian obat gratis dari pemerintah.
"Nantinya juga akan ada skrining gratis dari kami,'' kata dr Abdillah.
Rencananya, pada 24 April akan dilakukan skrining TBC di Ponpes yang ada di Kecamatan Jabon. Kemudian pada 25 April, skrining TBC di Ponpes desa Sidodadi Kecamatan Candi.
Dinkes Sidoarjo mengimbau masyarakat untuk segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami gejala TBC. Pengobatan TBC gratis dan dapat menyembuhkan jika pasien rutin minum obat yang diresepkan. (nis)
Editor : Annisa Firdausi