SIDOARJO - Anak zaman sekarang identik dengan gadget. Karakternya jauh dari hiruk piruk sosial interaktif. Tak sedikit mereka malah lebih memilih berdiam diri di kamar sembari bermain game.
Melihat hal tersebut, pada tahun 2018 Ahmad Rifandi mendirikan pelataran yang ia namakan Kampung Lali Gadget (KLG). Tempat itu adalah wujud untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang kini mulai redup.
Kehadiran permainan tradisional seperti berjalan menggunakan sandal bakiak, bagasing, enggrang, dan lainnya kiranya dapat mengurangi kebiasaan anak-anak agar tidak selalu menggenggam handphone.
Didatangi Radar Sidoarjo di tempatnya di Dusun Bender, Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, terlihat pengelola KLG mengajak anak-anak menampi beras dan menangkap ikan lele di sawah.
Anak-anak juga diajak bermain coblak-cublak suweng. Permainan tradisional khas Jawa Tengah yang identik dengan anak 90an.
Permainan tersebut dapat dimainkan oleh empat hingga tujuh orang. Satu orang harus menjadi pemimpin dengan cara telungkung dengan kedua tangan di bawah kepala.
Anggota lainnya duduk bersimpuh mengelilingi pemimpin permainan dengan tangan kiri di taruh di atas punggung pemimpin. Serta tangan kanan digunakan untuk memegang kerikil atau suweng.
Di tengah-tengah lagu, kerikil diletakkan di salah satu telapak tangan pemain, lalu semua pemain mengangkat tangannya. Dalam posisi tangan menggenggam dan jari telunjuk tegak lurus saling digesek-gesekkan. Kemudian pemimpinnya bangun dan harus menebak siapa pemain yang membawa kerikil tersebut. Bila tebakannya tepat, maka menang. Dan pemain yang tertebak menggantikan posisinya.
Permainan tersebut mempunyai makna yang cukup dalam. Dimana seseorang yang mencari harta harus dilakukan dengan baik. Kemudian setelah semua tercukupi maka perlunya untuk berbagai.
Minggu (10/12) mahasiswa dari berbagai daerah datang ke tempat tersebut. Seperti Medan, Aceh, NTT, Maluku, Batam, dan Sulawesi.
Inisiator KLG, Ahmad Irfandi mengapresiasi para mahasiswa yang turut terjun membersamai proses anak-anak. Menurutnya hal tersebut penting sebagai upaya perwujudan interaksi sosial.
Dia berharap Program Merdeka Belajar mahasiswa terus digelorakan. Dijadikan sebagai wahana untuk berperan dalam memajukan daerah yang lebih edukatif.
"Semoga program terus berjalan dan dapat membantu mendorong anak-anak mengurangi kecanduan gadget," tutupnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista