Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor mengatakan, gedung tersebut dikhususkan untuk menangani masalah vaskular. Seperti masalah stroke dan jantung. Sementara dari lima lantai itu, lantai tiga hingga lantai lima terdapat 51 bed.
"Sementara untuk lantai satu dan dua untuk intensif perawatan. Lantai satu ada 20 bed dan lantai dua ada 20 bed," katanya.
Muhdlor berharap, tahun ini Pemkab dapat melanjutkan pembangunan gedung RSUD Sidoarjo sisi depan. Dimana bangunan yang ada saat ini akan robohkan dan akan diganti dengan gedung baru. Totalnya ada tujuh lantai.
Pembangunan akan kembali dilanjutkan pada 2024. Dimana di depan gedung tujuh lantai nantinya akan dibangun gedung parkir bertingkat. "Mungkin satu-satunya kabupaten yang Insya Allah punya rumah sakit tipe A," ujarnya.
Menurutnya, jika RSUD Sidoarjo menjadi RS tipe A, maka akan setara dengan provinsi. Muhdlor menambahkan, pihaknya berupaya agar tanah di sisi selatan RSUD Sidoarjo dapat diruislag dan akan bisa digunakan untuk perhotelan. "Untuk memfasilitasi orang yang menjenguk," bebernya.
Pihaknya berkomitmen pemerataan layanan kesehatan tak akan berhenti hanya di RSUD Sidoarjo saja, tapi juga di RSUD Sidoarjo Barat. "Termasuk ada rencana juga kami akan membangun RS tipe D, yaitu dengan menaikkan status puskesmas menuju RS tipe D," terangnya.
Direktur RSUD Sidoarjo dr Atok Irawan mengatakan, sebelum dibangun menjadi gedung GDH II, tempat tersebut hanya difungsikan sebagai tempat rawat inap saja. Jumlahnya hanya satu lantai bagi pasien VIP. Padahal selama ini, jumlah permintaan VIP sangat banyak. "Jadi dengan ini maka bertambah," terangnya. (far/vga)
Editor : Vega Dwi Arista