Salah satu pemilik usaha batik tulis tradisional di Kampung Jetis Slamet mengatakan, proses pembuatan batik tulis tradisional membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam pengerjaannya, perajin batik membutuhkan keahlian dan tingkat ketelitian yang tinggi. “Oleh karena itu, kain batik tulis dijual lebih mahal daripada batik cetak,” katanya.
Meski begitu, batik tulis tetap memiliki kualitas yang unggul. Serta punya eksistensi tersendiri bagi para pecinta batik tradisional.
Namun sekarang banyak persaingan dari toko yang menjual batik modern dengan menawarkan harga yang miring. Hal itu menyebabkan minat masyarakat terhadap batik tulis sedikit menurun. Dia berharap ada upaya dan dukungan dari pemerintah untuk bisa mempromosikan dan menjaga kelestarian batik tersebut. Supaya generasi selanjutnya masih dapat melihat keindahan batik tulis jetis.
Anggota Komisi B DPRD Sidoarjo Deny Haryanto mendorong pemerintah untuk lebih gencar memperomosikan batik tulis asli Sidoarjo. Caranya bisa dengan berbagai macam. Seperti menggelar pameran atau menggunakannya dalam berbagai kegiatan.
Perluasan promosi melalui platform online juga bisa dilakukan. Sekaligus menyasar pasar remaja dan anak muda. “Bagaimanapun batik tulis itu juga warisan budaya, sehingga patut dilestarikan,” pungkasnya. (ads/nis/vga) Editor : Vega Dwi Arista