Dalam BIAN, yang menjadi sasaran adalah anak usia 9 bulan hingga 59 bulan. Mereka mendapatkan dua vaksinasi tambahan. Yaitu vaksin MR dan vaksin kejang. “Meski sudah selesai, tetapi kami terus melakukan vaksinasi rutin lengkap,” kata Penyuluh Kesehatan Masyarakat Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sidoarjo Qudrotin.
Sedangkan pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) tercapai 98 persen. BIAS yang diberikan kepada siswa kelas 1 SD. Bnetuknya berupa vaksin difteri, tetanus, MR. Untuk siswa kelas 2, berupa tetanus dan difteri. Sedangkan kelas 5, berupa tetanus, difteri, HPV atau vaksin untuk mencegah kanker serviks.
Dia menjelaskan, vaksinasi rutin lengkap tersebut diberikan kepada anak di bawah dua tahun hingga anak SD dalam bentuk program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Menurut dia, dari pelaksanaan vaksin rutin lengkap di Sidoarjo tersebut, sejak tahun 2014 tidak ditemukan lagi adanya penyakit polio.
Menurut Qudrotin, Dinkes Sidoarjo setiap tahun mencari dan membuktikan adanya penyakit polio di masyarakat. Diakui, pada tahun 2022 lalu, sempat ditemukan ada 17 kasus lumpuh layu. Namun, setelah diperiksa semua, ternyata negatif polio. Sebab salah satu bahayanya polio adalah setelah virusnya tidak ada, tapi penderitanya tetap lumpuh.
Pentingnya ikut vaksinasi, kata Qudrotin, menurut hasil dari riset kesehatan dasar (Rikesdas) oleh Departemen Kesehatan RI, bisa mencegah terserangnya dari 26 jenis penyakit. Dan dari vaksinasi ini, juga mampu mencegah 2.3 juta orang dari kematian setiap tahunnya.
Meski begitu, anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Bangun Winarso mengatakan, masih ada beberapa masyarakat yang tidak memperbolehkan anaknya untuk divaksin. Jumlahnya merata di 18 kecamatan di Sidoarjo. “Alasannya masalah kenyakinan atau kebiasaan tradisional,” katanya.
Untuk itu, hal tersebut menjadi tugas bagi Dinkes untuk menyadarkan mereka. Menggencarkan sosialiasi sehingga bisa dipahami manfaat vaksin baik bagi diri sendiri maupun orang lain. (nis/vga)
Editor : Vega Dwi Arista