Direktur PT Rodalink Indo Tama, Elkana Timotius mengungkapkan, tren penjualan sepeda memang mengalami pasang surut. Saat pandemi Covid-19 lalu, penjualan sepeda melonjak drastis. "Itu tertinggi sepanjang sejarah," jelasnya saat menghadiri ulang tahun outlet ke 25 tahun di Waru, Minggu (6/11)
Elkana menambahkan, untuk saat ini tren ikut menurun seiring meredanya pandemi Covid-19. "Sekarang kembali normal seperti sebelum pandemi," terangnya.
Menurutnya, tren yang naik turun itu diprediksi karena sebagian besar masyarakat membeli sepeda karena ikut-ikutan. Rodalink memiliki harapan yang tidak demikian. Tetapi lebih berupaya membudayakan masyarakat agar gemar bersepeda.
Karena itu perusahaan yang sudah berdiri sejak 1997 itu kerap menggelar fun bike, gowes, hingga menyediakan shower bagi cyclist. "Kami ingin menjadi home for cyclist," ucapnya.
Grafik penjualan bulanan biasanya akan meningkat pada kisaran Juni-Juli. Yaitu momentum hari libur atau kenaikan kelas anak sekolah.
Masih kata Elkana, untuk tren penjualan jenis sepeda yang paling banyak adalah jenis sepeda balap. Sementara untuk prediksi kedepanya lebih mengarah ke e-bike.
Rodalink merupakan bagian dari Polygon Group. Tetapi di gerainya menjual berbagai merek sepeda dengan beragam jenisnya. Seperti WimCycle, Marin, Tern, hingga Bianchi. Termasuk berbagai aksesoris sepeda.
Rodalink telah memiliki 54 gerai tersebar di Indonesia. Kemudian dua gerai di Singapura dan lima gerai di Malaysia.
Di ulang tahun ke 25 kali ini, Rodalink juga mengobral beragam diskon. Termasuk menyerahkan 25 unit sepeda ke Dinas Sosial Sidoarjo. (son/vga) Editor : Vega Dwi Arista