Pertama adalah bantuan berupa bebas Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) 100 persen. Ada 20 sopir angkutan kota jenis mikrolet dan 10 driver ojek online (ojol) yang secara smbolis menerima bantuan itu. “Ini betul-betul 100 persen. Driver ojol bisa cepat karena ada aplikatornya. Termasuk sopir angkot,” tuturnya.
Program pembebasan PKB untuk sopir angkot mikrolet dan ojol itu berlaku dari 19 September hingga 15 Desember 2022. “Ini disegerakan agar bisa meringankan beban dari dampak inflasi dan kenaikan BBM,” imbuh mantan Menteri Sosial itu.
Bantuan selanjutnya adalah perlindungan sosial Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas (ASDP). Bantuan ASDP dengan nilai Rp 300 ribu sebenarnya program rutin tiap bulan dari Dinas Sosial Jatim.
Melihat perkembangan perekonomian terkini, program itu pun di-top up menjadi senilai Rp 600 ribu. Program itu akan dicairkan dua kali. Yakni pada September dan November.
Dalam kesempatan itu juga, Pemprov juga menyalurkan bantuan zakat produktif dari Baznas Jatim dan Baznas Kabupaten Sidoarjo kepada 50 pengusaha ultra mikro di wilayah Sidoarjo. Zakat itu menyasar pelaku usaha mikro dengan besaran Rp 500 ribu per orang.
Kepala Dinas Perhubungan Jatim Nyono menambahkan, program pembebasan PKB 100 persen juga telah disambut antusias driver mirolet dan ojol. Sejak dibuka pada 19 September hingga 20 September tercatat sudah ada 586 wajib pajak yang memanfaatkan. Jika dirinci ada 45 unit mikrolet dan 551 ojek online.
Sementara itu, Herlin, driver ojol penerima bantuan mengaku cukup senang dengan program tersebut. Ia telah lima tahun menjadi driver ojol. Ia sangat merasakan dampak kenaikan BBM. “Orderan makin sepi, malah BBM naik,” keluh warga Wonoayu itu. (son/vga) Editor : Vega Dwi Arista