Kepala Desa Sugihwaras Syaiful mengatakan, pengangkutan residu sampah sebelumnya dilakukan 26 kali dalam sebulan. Namun tiga bulan belakangan ini ada pengurangan, hanya 19 kali.
"Akibatnya sampah menumpuk. Padahal residu sudah kita kurangi dengan pemilahan melalui bank sampah di tiap RT," katanya, Selasa (14/12).
Lokasi TPST yang sangat dekat dengan permukiman warga menjadi salah satu kendala. Karena itu pemdes mengupayakan merelokasi dengan memfungsikan tanah kas desa yang luasnnya 15.000 m2.
Wakil Bupati Sidoarjo Subandi melihat secara langsung kondisi di lapangan. Banyak tumpukan sampah yang ada di tepi jalan. Dia berharap segera ada solusi untuk segera ditindaklanjuti.
Salah satunya memberikan bantuan berupa alat untuk pemilah serta oven untuk mengolah sampah agar bisa dikelola dengan baik. Mengingat di wilayah ini merupakan wilayah yang padat hunian. Jadi sampah harus benar-benar dikelola.
"Jangan sampai ada lagi sampah-sampah yang dibuang di pinggir jalan yang bisa menimbulkan bau yang menyengat sehingga mengganggu pengguna jalan karena mengganggu kesehatan," katanya.
Untuk mengurangi tumpukan sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) menyemprotkan cairan anti bau dan melakukan clean up di sana.
Kepala DLHK Sidoarjo Bahrul Amig mengatakan, pemilihan sampah di TPST harus dimaksimalkan.
"Manajemen pengelolaan sampah harus dibenahi dari TPST," katanya. (rpp/vga)
Editor : Vega Dwi Arista