Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Edy Sutiono menerangkan, sudah hampir satu tahun sejak Pandemi Covid -19 pengoperasian BRT sengaja dihentikan. "Karena tidak ada penumpang. Subsidi dari kementrian juga sudah tidak ada," katanya, kemarin (24/5).
Kondisi itulah yang memaksa sarana transportasi darat Kabupaten Sidoarjo yang diresmikan pada 21 September 2015 lalu itu berhenti beroperasi. Tidak beroperasinya BRT tentu berdampak nganggurnya fasilitas penunjang terkait, yakni halte.
Dari pantauan Radar Sidoarjo, selain memang sepi, sejumlah halte bus yang memiliki trayek Terminal Porong sampai ke Terminal Purabaya, Bungurasih itu nampak kurang terawat. Misalnya halte depan perumahan Pondok Mutiara. Sejumlah sampah nampak berserakan di dalam halte.
Edy menambahkan, jika Pandemi Covid -19 sudah pulih, rencananya BUS yang dikelola Perum DAMRI itu juga akan dioperasikan kembali. "Tentunya jumlah akan disesuaikan dengan kebutuhan," imbuhnya.
Kepala Dinas Perhubungan Sidoarjo M.Bahrul Amig menambahkan, pihaknya juga tengah memikirkan strategi untuk lebih mengefektifkan salah satu moda transportasi darat di Sidoarjo itu. Pertimbangannya juga untuk mengikuti perkembangan zaman. "Apakah nanti kendaraan diganti yang lebih kecil atau trayek yang ditata ulang. Akan difikirkan agar lebih efisien," katanya.
Seperti yang diketahui, BRT telah mulai mengaspal di Sidoarjo sejak diresmikan Bupati Sidoarjo Saiful Illah pada September 2015 lalu. Bus yang dapat membawa 60 penumpang itu akan melewati rute Terminal Porong - Jl Raya Porong - Jl Raya Tanggulangin - Jl Raya Candi - Jl Sunandar PS - Jl Diponegoro - Jl Pahlawan - Tol Sidoarjo - Tol Waru - Terminal Purabaya. (son/opi) Editor : Nofilawati Anisa