Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo
Dengan penelitian, Shabrina Nur Mutia, Almayra Khanza Fahrani, Dinda Tria Kusuma, Nawal Aulia dan Fadyah Aurellia Rahman berhasil menciptakan obat anti nyamuk berbasis diffuser. Kelima siswi ini mengoptimalisasi daun mangrove jenis api-api.
Shabrina Nur Mutia mengaku, temuan ini merupakan obat serbuk dari daun mangrove jenis api-api yang dikeringkan terlebih dahulu. Latar belakang membuat obat nyamuk ini dalam rangka mengingatkan kembali pada masyarakat untuk tetap mewaspadai bahayanya nyamuk demam berdarah. Karena penularannya diduga juga masih terus meningkat.
Pembuatan obat herbal pembasmi nyamuk ini aman bagi lingkungan dan pernafasan manusia dan cukup mudah dibuatnya karena bahan bakunya tidak terlalu sulit.
Terlebih dahulu daun mangrove jenis api-api dikeringkan. Setelah kering ditumbuk hingga halus. Serbuknya ditimbang sesuai takaran yang diinginkan dengan perbandingan 5 miligram serbuk dan 200 miligram air panas. "Kemudian disaring lima kali agar serbuknya hingga tidak menyisakan serbuk kasar,” jelas Shabrina.
Lebih lanjut Fadyah Aurellia menjelaskan, air yang bercampur serbuk anti nyamuk dimasukkan ke dalam alat ultrasonic aroma humidifer elektrik. ”Dari sinilah obat herbal pembasmi nyamuk bisa digunakan dengan mengeluarkan asap tanpa ada afek pada pernafasan maupun lingkungan,” jelasnya.
Sementara itu, ketua riset sekolah Nur Afifah menambahkan adanya obat herbal pembasmi nyamuk dari dedaunan ini, telah dilakukan pengujian keamanannya pada lingkungan maupun pernafasan. “Sudah terbukti karena tidak menggunakan bahan kimia," tegasnya.
Hasil penelitian ini telah diakui di ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair 2021. (*/opi) Editor : Nofilawati Anisa