Perjalanan panjang pemugaran Candi Dermo berlangsung sejak April 2015. Di tahun 2020 ini sempat mandek selama tiga bulan karena pandemi Covid-19. Awal Oktober lanjut lagi. Untuk memugar pintu candi, menata dan memasang batu andesit di sekeliling taman dan membuat gorong-gorong.
Candi tersebut dipugar untuk menyelamatkan situs bersejarah ini agar tidak semakin rusak. Sebab kondisi Candi Demo saat itu rusak cukup parah karena termakan usia. Setelah pemugaran, bentuk candi lebih terlihat. Tinggi candi sebelum pemugaran 13,5 meter. Setelah dipugar jadi 15 meter.
Candi seluas 23x22 meter persegi ini bukanlah tempat persembahyangan, melainkan sebuah gapura dari kerajaan Majapahit. Mengapa bisa disimpulkan demikian? "Karena karakteristik bangunan Candi Dermo punya dinding pembatas layaknya gapura," kata juru pemelihara Candi Dermo, Hadi Ismawanto Rabu (18/11)
Hadi mengatakan dari hasil groundcheck pemugaran, tim ahli BPCB memperkirakan masih ada sisa situs yang terkubur dalam tanah di sekeliling kompleks candi. Luasnya 50 meter dari batas taman saat ini. "Pengajuan perluasan kawasan candi Dermo. Menggunakan anggaran pusat tahun depan," imbuhnya.
Tidak hanya itu, aset bersejarah ini bisa menjadi destinasi unggulan Desa Candinegoro. Maka dari itu perlu pembangunan lahan parkir dan akses jalan yang lebih mudah menjangkau situs ini.
Selama ini, tingkat kunjungan wisatawan sudah cukup tinggi. "Per bulan 200 orang. Paling banyak mahasiswa," pungkasnya. (rpp) Editor : Nofilawati Anisa