Wisata Lokal Sidoarjo
Alun-alun Sidoarjo pernah menjadi saksi bisu bagi keindahan dan keceriaan wisata delman. Namun, seiring berjalannya waktu, kehadiran delman tersebut mulai meredup. Cerita menarik mengenai era gemilang dan perubahan itu pun tak bisa diabaikan.
Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo
Dulu, Alun-Alun Sidoarjo menjadi pusat kuliner yang ramai. Kesempatan itu dimanfaatkan lebih dari 20 delman untuk mengajak pengunjung berkeliling. Para pengunjung dapat menikmati pesona kota dengan gaya yang klasik namun tak lekang oleh waktu.
Namun, berita kelam datang ketika Pedagang Kaki Lima (PKL) dilarang berjualan di alun-alun. Seiring dengan penurunan jumlah pengunjung, jajaran delman tersebut juga semakin sepi dari perhatian. Peminat wisata delman pun ikut berkurang.
Meskipun demikian, ada satu figur yang gigih mempertahankan jejak sejarah wisata delman di alun-alun Sidoarjo. Kusir delman bernama Hery yang hingga kini masih beroperasi
Pukul 15.00 adalah saat dimana Hery memarkir delmannya di sisi selatan alun-alun. Siap mengajak pengunjung berkeliling.
Sayangnya, terjadi perubahan dramatis dalam panorama wisata delman tersebut. Dari sekitar 20 delman yang dulu meramaikan alun-alun, kini hanya tersisa 4 delman yang masih beroperasi di area tersebut. "Sisanya pindah ke Kawasan Gading Fajar, ada juga yang pindah profesi,'' katanya.
Hingga saat ini, Hery telah berganti kuda sebanyak tiga kali. Dengan tarif Rp 25 ribu sekali putaran, Hery mengajak pengunjung menapaki jejak-jejak bersejarah di alun-alun Sidoarjo.
Rute yang diikuti oleh Hery dan delmannya pun menggambarkan perjalanan yang melintasi kenangan dan pesona kota. Dimulai dari sisi selatan alun-alun, menuju Jalan Jenggolo, berbelok ke Jalan Mayjen Sungkono, menelusuri sungai Pucang, berbelok ke Jalan Sultan Agung, dan akhirnya kembali ke Jalan Gubernur Suryo.
Kisah wisata delman di sekitar Alun-alun Sidoarjo adalah cerminan dari perubahan zaman. Dari masa kejayaan hingga penurunan popularitas, serta perjuangan seorang kusir untuk menjaga tradisi yang hampir terlupakan. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista