Mendidik anak untuk menjadi pecinta sekaligus penghafal Alquran butuh kesabaran. Apalagi di era gempuran media sosial (medsos) seperti saat ini tentu tidak mudah.
Zainul Fajar, Wartawan Radar Sidoarjo
Muhammad Suherman Fadli adalah sosok ayah, teman, sekaligus mentor bagi hafiz cilik Elfadh Aqeelah Zahidah. Elfadh adalah seorang hafiz cilik yang mempunyai segudang prestasi dari Sidoarjo. Dia berhasil menyita banyak perhatian setelah menjuarai kontes “Hafiz Indonesia” yang digelar oleh salah satu perusahan televisi nasional.
Seperti kebanyakan ayah pada umumnya, Fadli ingin menjadikan putra-putrinya sebagai anak yang bermanfaat. Bagi agama dan bagi ayah serta bundanya kelak.
Lika-liku perjalanan, proses, dan tantangan yang dihadapi di era sekarang mengharuskannya menjadi orang tua yang kreatif. Namun tetap dalam koridor keagamaan.
Fadli mengatakan, keistiqomahan adalah metode yang selalu ditanamkan kepada anak untuk menjaga pertumbuhannya. Sehingga ke depan tetap sesuai anjuran Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW.
“Pertama adalah mensinergikan antara kedua orang tua dan anak. Dalam artian visi dan misi sedari awal kita harus sudah cocok dan disepakati bersama. Yang kedua adalah memaksimalkan komunikasi antara orang tua dengan anak, hal tersebut menjadi kunci bagaimana anak bisa mengerti dan anak bisa menerima apa yang telah menjadi tanggung jawabnya,” paparnya.
Ayah tiga anak tersebut menjelaskan, jika memberikan bimbingan pada anak memang menjadi suatu tantangan tersendiri. Terlebih saat ini adalah era medsos. Menurutnya, pemantauan anak menggunakan medsos dan gadget juga menjadi faktor utama dalam mendidik anak-anaknya.
“Saya bersama anak-anak selalu mengajarkan bahwa disiplin menjalankan program yang disepakati bersama adalah hal penting. Selalu libatkan anak dalam setiap pengambilan keputusan, hal ini menjadikan anak berkomitmen melaksanakan jadwal tanpa ada paksaan atau ikhlas dari dorongannya sendiri,” jelas ayah yang berusia 36 tahun tersebut.
Fadli juga memberikan pesan bahwa, kebanyakan orang tua pada umumnya memaksakan kehendaknya untuk anak menjadi sesuai keinginan orang tua tanpa memberi support dan bimbingan yang benar.
Pemaksaan kehendak orang tua itulah yang menurutnya justru menjadikan anak melakukan sesuatu tidak berdasarkan keikhlasan hatinya namun karena takut terkena hukuman.
Lulusan Universitas Ma’had Umar Bin Khattab di Uni Emirate Arab tersebut menambahkan, jika anak ingin nyaman dengan keluarga, maka para orang tua harus menjadikan rumah sebagai tempat ternyaman anak untuk bermain, bercerita, sebagai media belajar serta menjadi tempat tumbuh kembang anak secara baik.
“Nah yang terakhir adalah mengkondisikan lingkungan dalam keluarga, dalam hal ini adalah menjadikan rumah sebagai sarana untuk bermain dan belajar anak. Karena lingkungan menjadi modal utama kita sebagai media untuk memberikan pelajaran bagi anak,” terangnya. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista