Sebuah bangunan tua di Jalan Satria, Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru menjadi salah satu saksi bisu lahirnya peristiwa 10 November 1945. Sebab dari bangunan itu, perjuangan kaum santri melawan penjajah dimulai.
LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Sidoarjo
Bangunan yang berciri khas Belanda itu tampak berdiri di sebuah gang kecil tepat di belakang Pabrik Paku, Kedungrejo, Waru. Dindingnya terkelupas, batu merahnya pun tampak menyapa setiap mata yang memandangnya.
"Sudah tua sekali. Atapnya bocor kalau hujan, lantainya juga banjir jika deras. Ya ini kondisinya seperti ini. Eman sebenarnya," ujar Ahmad Ghozali, penjaga bangunan itu.
Siapa sangka, jika bangunan itu, pernah menjadi markas besar para ulama dan santri mengatur strategi pertempuran 10 November 1945. Di bangunan setinggi sekitar tujuh meter itu, perjuangan kaum santri dimulai.
Pria 51 tahun itu mengatakan, bangunan tersebut dahulunya merupakan sebuah rumah. Pemiliknya dikenal sebagai H Rois. Ghazali menyebut, KH Bisri Syansuri atas perintah KH Hasyim Asy'ari berkumpul di rumah ini mengatur strategi perang.
"Juga sempat menjadi persinggahan KH Hasyim Asy'ari dan Kiai Wahab Chasbullah selaku pemimpin komando barisan Mujahidin saat itu," imbuhnya.
Ghazali menyayangkan, tak ada renovasi untuk bangunan yang kini bernama Markas Besar Oelama (MBO) itu. Alasan itulah, yang membuatnya sempat mengusir orang yang hendak menggelar kegiatan di bangunan bersejarah itu.
"Ada yang berniat melakukan kegiatan. Lah gimana ini membahayakan. Banyak yang runtuh. Saya berharap ada yang peduli dengan ini," katanya.
Sehari-hari, Ghazali hanya merawatnya ala kadarnya. Meski tak dibayar, kebutuhan listrik dan kebersihan bangunan itu selalu dipenuhinya. "Tapi kalau begini terus, ya lama-lama saya tinggalin. Bisa mengancam nyawa saya jika sewaktu-waktu roboh," keluhnya. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista