Berhasil meraih prestasi di usia muda, striker Deltras Wahyu Adi Priyanto mengaku bangga. Top scorer Liga 3 Jatim tersebut mengaku tak menyangka. Sebab dulunya dia sempat dilarang bermain bola oleh orangtuanya.
Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo
Saat itu Adi baru menginjak usia 8 tahun. Bibit kecintaannya terhadap di kulit bundar sudah mulai terlihat. Dia pun mengutarakan keinginannya untuk masuk Sekolah Sepak Bola (SSB).
"Tapi malah dilarang sama orang tua," katanya.
Adi pun sempat kesal. Namun dia tidak menyerah. Beberapa kali dia terus meminta izin kepada orangtuanya. Bahkan dengan sedikit memaksa. Mimpinya untuk menjadi pemain sepak bola tidak surut.
Sebenarnya bukan tanpa alasan orang tua Adi melarang bermain sepak bola. Saat kecil dirinya mengaku punya penyakit yang sering membuatnya sesak napas.
"Mungkin orang tua khawatir jika saya beraktifitas berat akan memperparah," imbuhnya.
Atas kegigihannya meminta izin, Adi akhirnya diperbolehkan masuk SSB. Semangatnya pun semakin terbakar. Dia berlatih dengan giat. Hingga penyakit sesak napasnya berangsur membaik. Bahkan saat ini sudah tidak pernah kambuh.
Namun, perjalanannya tidak berhenti di situ. Adi sempat dilarang bermain sepak bola lagi dan diminta untuk folus belajar.
"Saat itu saya masih kelas 2 SMP," katanya.
Usai fokus ke pelajaran hingga berhasil lulus SMP, Adi kemudian mendapatkan izin untuk bermain sepak bola lagi. Ia bergabung dengan SSB BSP Tuban. Nah, kerja kerasnya pun terbayar.
Dia kemudian berhasil masuk menjadi pemain Ellite Pro Persela U-20. Hingga tahun 2021, pemain muda berusia 19 tahun ini bergabung dengan Deltras FC.
“Alhamdulillah sekarang saya bisa membuat keluarga bangga,” ujarnya.
Namun, bagi Wahyu ini semua adalah permulaan dari mimpi besarnya. Ia ingin membawa Deltras naik ke Liga 2 bahkan ke Liga 1. Dia bermimpi ingin menjadi pemain profesional kelas nasional. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista