Tim dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, yang terdiri dari Dr. Ir. Sri Winarti, MP dan Ir. Titi Susilowati, MT dibantu mahasiswanya yaitu Elionora Brigita Yuliro serta Adelia Permatasari melakukan pengabdian masyarakat, Minggu (29/8). Materi pelatihannya adalah proses pengolahan limbah bandeng menjadi kecap ikan aneka rasa.
Sanusi, Wartawan Radar Sidoarjo
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut, bertempat di CV Maharani Dwi Bayu di Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati. Kecap aneka rasa tersebut terdiri dari asin, pedas dan manis. Diolah dari limbah bandeng seperti kepala, ekor dan duri.
Selain belajar proses produksi kecap aneka rasa, juga diberikan pelatihan aplikasi pengemasan dan pelabelan terhadap kecap yang dihasilkan.
“Dari segi estetika kemasan sangat penting untuk menarik minat konsumen. Apalagi, teknologi pangan kemasan tanpa label tidak sesuai dengan peraturan undang-undang tentang pelabelan pangan,” kata Dr. Ir. Sri Winarti, MP.
Menurutnya, label dan pelabelan berkaitan dengan tiga fungsi pengemasan. Yaitu, fungsi identifikasi, fungsi membantu penjualan produk dan fungsi pemenuhan peraturan perundang-undangan.
Dia mengungkapkan, kecap limbah bandeng yang dikembangkan di CV Maharani memiliki keunggulan. Di antaranya dapat menggantikan sambel bandeng asap dan bandeng presto yang sebelumnya memang dibuat dari kecap kedelai ditambah bumbu-bumbu cabai untuk memberikan sensasi pedas.
Ir. Titi Susilowati, MT menambahkan, kemasan kecap yang digunakan adalah kemasan yang tahan sterilisasi. Yaitu botol kaca dan aluminium foil. Hal ini dipilih karena salah satu tahap pengolahan kecap adalah sterilisasi.
“Proses sterilisasi sangat penting dilakukan untuk mensterilkan kecap bandeng agar memiliki daya awet yang tinggi, sehingga memperluas distribusi,” ujarnya.
Proses sterilisasi di perusahaan besar, ujarnya, biasanya dilakukan dengan menggunakan retort. Yaitu alat pemanas dengan tekanan tinggi. “Untuk aplikasi sterilisasi skala UKM perlu dilakukan modifikasi alat sterilisasi dengan harga yang terjangkau,” pungkasnya. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista