Usia boleh tua, tapi semangat harus tetap muda. Istilah ini sangat cocok disematkan pada Soesanto Prijo Soetomo. Si Anak Gunung yang telah berusia 85 tahun. Atas keinginan kuat, ia berhasil menerbitkan buku meskipun di usia senjanya.
Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo
Soesanto menyebut dirinya Si Anak Gunung. Di kala muda, kakek 11 cicit dan 21 cucu ini tinggal di daerah pegunungan. Buku yang ia tulis itu menceritakan perjuangannya untuk sekolah. Kisah inspiratifnya menempuh pendidikan. Padahal saat itu kata Soesanto, anak-anak seusianya lebih menyukai untuk angon kambing atau angon sapi.
Hingga dewasa, pendidikan menjadi bagian hidup pria kelahiran 19 Agustus 1935 ini. Pada 1982 dengan empat rekannya, dirinya juga berhasil mendirikan STKIP PGRI Trenggalek dan menjabat ketua yayasan. Dirinya juga berhasil meraih Gelar Sarjana di jurusan kurikulum dan teknologi pendidikan Universitas Nusantara Kediri.
Lulus tahun 1986 pada usia 51 tahun. Hingga bisa mengabdi pada dunia pendidikan dan berhasil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo tahun 1989-1996.
Jabatan terakhir, dirinya menjadi pengawas SMA Provinsi Jatim untuk Kabupaten Ponorogo hingga Purna Tugas tahun 1996. Perjalanan hidupnya menjadi sebuah buku. "Memang punya hobi membaca, menulis, geguritan dan macapat," kata Soesanto.
Dirinya juga punya beberapa tulisan berbahasa jawa mengenai geguritan dan tembang-tembang macapat. Menurutnya dengan membaca dan menulis akan memperlambat pikun dan melatih tangannya agar tidak cepat tremor.
Itu terbukti meskipun usia 85 namun ingatan bapak tujuh anak itu masih kuat. Dirinya punya prinsip hidup, Long Life Education. Sehingga sampai usia 85 masih terus belajar. "Keinginan terbesar saya bisa menulis sebuah Buku yang bisa menginspirasi orang lain," katanya.
Buku Si Anak Gunung itu, mulai ia tahun lalu. Untuk membunuh rasa bosan harus berada di rumah akibat situasi pandemi Covid-19. Setelah buku pertama selesai, ia berkeinginan menerbitkan buku kedua.
Yakni buku berbahasa jawa, tentang tembang macapat dan geguritan. Tujuannya, agar generasi muda tetap mengenal Bahasa Jawa. Sebab, dikhawatirkan, jika tidak diuri-uri bahasa Jawa akan punah. (*/opi) Editor : Nofilawati Anisa