Tepat di pekarangan rumahnya di Desa Juwetkenongo, Kecamatan Porong, pria yang akrab dipanggil Abah Itonz itu menyalurkan hobinya. Lahan seluas sekitar 2 hektare telah disulap menjadi kebun penuh bonsai.
Berbagai jenis tanaman bonsai terawat di pekarangan yang juga akan dikembangkan sebagai wisata desa itu. Mulai dari fikus, santigi, hingga pohon waru. Ukurannya juga variatif. Sebanyak 60 lebih bonsai berukuran extra large dikoleksi pria yang juga sebagai ketua Jenggolo Bonsai Sidoarjo (JBS) itu.
Abah Itonz juga masih satu komunitas dengan Khoirul Yahya, petani bonsai asal Desa Ploso, Wonoayu. Mereka juga kerap nongkrong bareng untuk saling bertukar ilmu seputar bercocok tanam.
Abah Itonz menceritakan, dirinya mulai telaten menggeluti bonsai sejak tahun 2008. Alasannya simple. Yakni refreshing di tengah kepenatannya sebagai kontraktor alat pendingin. “Kontraktor banyak yang dipikirkan, jadi refreshing jika pegang bonsai,” candanya.
Menurutnya, menjadi petani bonsai juga bukan perkara yang mudah. Dibutuhkan keuletan, karena membentuk bonsai juga membutuhkan waktu yang tidak singkat. “Yang penting hobi dulu, nanti naluri akan terbentuk,” timpalnya.
Satu persatu koleksi bonsai dikumpulkan Abah Itonz. Modalnya juga dari menyisihkan keuntungan dari pekerjaannya sebagai kontraktor. Tak disangka, koleksinya kini sudah mencapai ratusan pohon. Itu baru yang berukuran extra large, belum yang berukuran kecil yang sedang dibudidayakan.
Berkat kegigihannya, pekarangannya pun mulai banyak dilirik. Salah satunya tentang usulan untuk dijadikan wisata desa. Ia pun menyambut baik rencana tersebut. (son/nis/opi) Editor : Nofilawati Anisa