RADAR SIDOARJO - Lonjakan harga plastik yang masih terjadi hingga April 2026 mulai menekan pelaku usaha, terutama pedagang kecil dan UMKM.
Menyikapi kondisi ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sidoarjo mengimbau pelaku usaha untuk beralih ke kemasan alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.
Baca Juga: Harga Plastik Meroket, Pedagang Es Degan di Sidoarjo Ngos-ngosan
Plt Kepala Disperindag Sidoarjo, Happy Setianingtyas melalui Kabid Perdagangan K. Arya Wijojok, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik dipengaruhi faktor global, khususnya ketergantungan bahan baku impor.
“Semua berasal dari pusat, termasuk bahan baku, regulasi, hingga intervensinya,” ujar Arya kepada Radar Sidoarjo, Rabu (29/4).
Baca Juga: Harga Plastik di Sidoarjo Meroket hingga 100 Persen Gegara Perang di Timur Tengah
Ia menambahkan, bahan baku plastik yang berasal dari turunan minyak bumi membuat harganya sangat sensitif terhadap kondisi geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah.
“Dampaknya dari situ. Bahan bakunya dari nafta, turunan minyak bumi, sehingga konflik global ikut memengaruhi harga,” jelasnya.
Baca Juga: DLHK Sidoarjo Larang Pembakaran Sampah Plastik di Industri Tahu Tropodo
Menurut Arya, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengendalikan harga plastik. Meski begitu, Disperindag berupaya membantu pelaku usaha dengan memperpendek rantai distribusi.
“Upaya kami adalah mendekatkan distributor dengan pelaku usaha agar mata rantai distribusi bisa dipangkas,” katanya.
Baca Juga: Masih Bandel, Pengusaha Tahu Tropodo Krian Sidoarjo dan Pemasok Sampah Plastik Diamankan
Selain itu, pelaku usaha juga didorong untuk mulai beradaptasi dengan beralih ke kemasan non-plastik, seperti kertas atau kaca.
“Sarannya, plastik bisa diganti dengan bahan kertas atau kaca. Misalnya botol plastik diganti botol kaca, atau minuman disajikan menggunakan gelas yang bisa dicuci ulang,” ujarnya.
Disperindag juga mendorong pelaku UMKM untuk melakukan efisiensi penggunaan plastik, seperti menyesuaikan ukuran kemasan, mengurangi bahan berlebih, hingga menerapkan sistem penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill) sebagai solusi jangka panjang.
Meski harga meningkat, Arya memastikan kondisi pasar di Sidoarjo masih relatif stabil dan belum ditemukan praktik penimbunan.
“Tidak ada penimbunan. Pengecer masih banyak dan kondisi pasar tidak terlalu bergejolak,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa stok bahan baku plastik secara nasional diperkirakan masih aman dalam waktu dekat.
“Informasi dari pusat, bahan baku masih bertahan sekitar dua bulan,” tambahnya.
Disperindag berharap pelaku usaha tetap kreatif dan adaptif dalam menghadapi kenaikan harga ini, tanpa harus langsung membebani konsumen dengan kenaikan harga jual.
“Tidak harus langsung menaikkan harga, bisa dilakukan efisiensi di sisi lain,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista