RADAR SIDOARJO - Kenaikan harga kedelai membuat sejumlah produsen tahu dan tempe di Kabupaten Sidoarjo kelimpungan. Lonjakan harga bahan baku tersebut memaksa mereka mengurangi volume produksi dan penjualan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo, Widiyantoro Basuki, menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai disebabkan oleh menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), mengingat sebagian besar pasokan kedelai di Indonesia masih berasal dari impor.
"Harga kedelai memang sangat dipengaruhi kurs dolar. Karena kedelai berasal dari luar negeri, saat dolar naik, otomatis harga kedelai juga ikut melonjak," jelasnya saat ditemui Radar Sidoarjo, Kamis (24/4).
Menanggapi kondisi tersebut, Disperindag Sidoarjo tidak tinggal diam. Widiyantoro menyatakan pihaknya tengah menyiapkan langkah konkret untuk menekan gejolak harga, salah satunya dengan menggelar operasi pasar.
"Ya, kami akan segera melakukan operasi pasar," tegasnya singkat.
Operasi pasar tersebut direncanakan akan melibatkan sejumlah suplier kedelai, dengan tujuan menyediakan bahan baku berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau bagi para pelaku industri kecil dan menengah.
Langkah ini diharapkan mampu meringankan beban produsen tahu dan tempe sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
“Kami berupaya keras agar harga di pasar tidak ikut melonjak tajam. Ini demi menjaga daya beli masyarakat,” pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista