SIDOARJO - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di Kabupaten Sidoarjo semakin melonjak. Melonjaknya kasus PMK pada hewan ternak membuat penjualan pedagang daging sapi di Pasar Baru Porong, Sidoarjo merosot tajam.
Penjualan maupun harga daging turun drastis semenjak wabah PMK merebak. Pedagang mengaku rugi dengan adanya wabah tersebut, hal itu diungkapkan oleh pedagang di Pasar Baru Porong, Sidoarjo.
"Sekarang semenjak ramainya wabah PMK ini penjualan saya menurun drastis, biasanya setiap hari itu bisa menjual sampai 70 kilogram," ujar pedagang daging, Mahmudah, Selasa (21/1).
Bahkan dalam sehari, perempuan 47 tahun itu pernah menjual sampai 95 kilogram daging sapi ketika ramai pembeli. Semenjak adanya wabah PMK ini, ia hanya mampu menjual paling banyak 60 kilogram daging sapi sehari.
Baginya, wabah PMK ini sangat merugikan peternak maupun pedagang daging sapi. Ia pun penasaran, pasalnya wabah ini merebak menjelang Hari Raya Idul Adha.
"Setiap harinya sekarang tidak lebih dari 60 kilogram, bahkan terkadang di bawahnya. Meski kemarin masuk weekend, hanya habis 50 kilogram saja," tuturnya.
Sekadar diketahui, sebelum wabah PMK ini merebak, harga normal daging di pasar baru Porong sebesar Rp 110 ribu per kilogram. Namun, setelah diserang wabah, harga daging menjadi Rp 105 per kilogram.
Meski harga sudah diturunkan, minat pembeli menjadi berkurang. Hal itu diungkapkan satu pedagang lainnya, Mahfud, 49. Dia mengaku, penjualan daging sapi di lapaknya menjadi turun drastis.
"Setelah wabah PMK omset penjualan akhirnya turun, meski harga daging sudah diturunkan tetapi minat pembeli juga turun. Normalnya bisa habis 75 sampai 95 kilogram per hari," tuturnya.
Bahkan, penjualan daging sapi di lapaknya pernah melonjak hingga menghabiskan satu kuintal ketika weekend. Namun, untuk weekend saat ini, ia hanya mampu menghabiskan paling banyak 75 kilogram.
"Rata-rata pembelinya sudah langganan. Kalau sekarang jika hari biasa paling banyak menjual 65 kilogram sejak ramai PMK," pungkas penjual di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, ini. (dik/gun)
Editor : Guntur Irianto