Kementerian Pertanian menargetkan pada 2024 kinerja ekspor seluruh produk hasil pertanian maupun peternakan beserta produk subsektornya dapat meningkat hingga 300 persen. "Justru pandemi melanda nilai ekspor peternakan naik 39 persen lebih bila dibandingkan periode yang sama (September) tahun 2020. Artinya, sektor ini cukup signifikan berkontribusi pada perekonomian negara," kata Nasrullah di sela acara pelepasan ekspor perdana pakan ternak peliharaan keluaran PT Central Windu Sejati, Kamis (11/11).
Lebih jauh ia menjelaskan, ekspor produk subsektor telah menyumbang pendapatan negara cukup signifikan. Untuk subsektor peternakan menjadi penyumbang kedua setelah subsektor pertanian, di antaranya seperti komoditas olahan telur, daging ayam maupun sapi. “Di masa pandemi seperti saat ini, sektor pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam pemulihan ekonomi Indonesia,” sambungnya.
Nasrullah mengungkapkan, untuk menggenjot pertumbuhan ekspor ke depan, pemerintah terus berupaya membuka peluang pasar-pasar baru melalui pertemuan bilateral dengan berbagai negara. “Selain itu, dalam waktu dekat, sekitar akhir November nanti, kita mau promosi bisnis untuk produk pertanian di beberapa negara. Kami pun menawarkan juga kepada peternakan yang mau ikut promosi ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Denmark,” ujar Nasrullah.
Salah satu pemain ekspor produk subsektor peternakan adalah PT Central Windu Sejati. Kamis (11/11), mereka resmi mengekspor perdana 10 ton makanan hewan jenis kucing ke Brunei Darussalam. Anak perusahaan dari PT Central Proteina Prima Tbk ini menargetkan akhir tahun 2021 nanti bisa masuk ke pasar Filiphina. Selanjutnya di 2022 bisa ekspor ke sejumlah negara di Asia Tenggara lainnya dengan nilai yang sama seperti tahun ini. "Ekspor perdana ini tidak terlalu tinggi. Tetapi kami membuat terobosan baru dalam pasar pakan ternak peliharaan di luar negeri nantinya. Adapun nilai ekspor ini sebasar USD 10.000, " terang Presiden Direktur PT Central Windu Sejati, Paulius Juta.
Lebih lanjut Paulius menjelaskan, selama ini pihaknya mampu memproduksi pakan ternak peliharaan sebasar 8.000 ton per bulan. "Ke depan kami akan menargetkan produksi lebih tinggi yakni sebasar 15.000 ton per bulan. Sementara kontribusi paling tinggi saat ini adalah pakan kucing," ujarnya.
Ia menambahkan, CP Prima juga memproduksi pakan lainnya seperti pakan ikan, pakan udang, bibit udang, bibit ikan, probiotik, sampai produk udang dan makanan olahan. Hal ini, kata dia , untuk memenuhi target dari pemerintah. "Kami akan mengikuti arahan dari Dirjen soal target ini sampai 2024 nanti tiga kali lipat produksi. Kami optimistis mampu menargetkan yang diminta oleh pemerintah seiring dengan memperluas jaringan ekspor ke nagara lain," ungkap Paulius. (ebi/opi) Editor : Nofilawati Anisa