SIDOARJO - SMA Negeri 1 Sidoarjo terus mencetak prestasi dengan mengantarkan siswanya ke perguruan tinggi ternama. Setiap tahun, lulusan terbaik dari sekolah ini berhasil menembus kampus-kampus unggulan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Kepala SMAN 1 Sidoarjo, Eko Redjo Sunariyanto, mengapresiasi semangat belajar para siswanya yang luar biasa. Menurutnya, kerja keras dan ketekunan mereka telah membuahkan hasil yang membanggakan.
"Banyak siswa kami yang diterima di kampus-kampus bergengsi, seperti ITB, UGM, UNAIR, hingga ITS," ujarnya saat ditemui Radar Sidoarjo, Kamis (20/3).
Untuk mendukung para siswa, pihak sekolah menjalin komunikasi erat dengan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMAN 1 Sidoarjo. Hal ini bertujuan agar para alumni turut membantu adik kelas mereka, termasuk dalam hal mencarikan tempat tinggal di kota tujuan kuliah.
"Kami ingin mereka tetap merasa didampingi, meskipun sudah berada di luar kota," tambahnya.
Lolos ITB hingga Kampus Internasional
Salah satu lulusan yang mencuri perhatian adalah Anggun Aurel, yang berhasil diterima di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Anggun mengaku sangat senang bisa menempuh pendidikan sesuai dengan minatnya di bidang energi.
"Saya tertarik pada bidang ini karena keresahan saya terhadap lingkungan sekitar rumah di Candi," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa bau gas dari semburan lumpur masih terasa meskipun bertahun-tahun telah berlalu. Anggun bahkan pernah melakukan penelitian tentang bahaya gas bagi kesehatan manusia, yang semakin memperkuat tekadnya untuk berkontribusi di bidang pertambangan dan perminyakan.
Tak hanya di ITB, Anggun juga berhasil lolos seleksi di University of Toronto, Kanada, serta Adelaide University dan Monash University di Australia.
"Prosesnya cukup panjang. Saya harus mengirimkan berbagai dokumen dan mengikuti tes bahasa Inggris IELTS. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan emas ini," katanya.
Putri Tukang Bangunan Lolos ITB dengan Beasiswa Penuh
Kisah inspiratif lainnya datang dari Hikmah Islamiyah, putri seorang tukang bangunan yang berhasil menembus ITB. Ia diterima di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian dengan beasiswa penuh.
Latar belakang ekonomi yang sederhana tak menyurutkan semangatnya untuk meraih mimpi besar. Sejak kecil, Hikmah terbiasa hidup mandiri dan selalu berusaha mencapai prestasi akademik terbaik.
"Bapak saya bekerja sebagai tukang bangunan, sementara Ibu sudah tidak ada sejak saya masih SMP," ujar perempuan 18 tahun itu.
Meski diterima di ITB, perjalanan Hikmah tidaklah mudah. Ayahnya sempat ragu mengizinkannya kuliah di Bandung karena khawatir dengan biaya hidup yang tinggi.
"Saya terus meyakinkan Bapak bahwa saya bisa menjaga diri dan bertahan di sana," katanya.
Beruntung, salah satu saudaranya yang tinggal di Kalimantan bersedia membantu biaya hidupnya. Hal ini menjadi angin segar bagi Hikmah dan membuatnya semakin mantap menatap masa depan.
"Berat rasanya meninggalkan Bapak dan adik, tapi saya ingin membuktikan bahwa pendidikan bisa mengubah nasib," tegasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista