Dengan ketekunan dan kesabaran, hobi dapat menjadi sumber penghasilan. Seperti yang dilakukan oleh Khoirul Anam. Hobinya dalam membuat layang-layang sekarang dapat menambah penghasilannya. Terutama pada musim kemarau, pesanan layangan semakin banyak.
Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo
Pria yang tinggal di Desa Karangbong, Kecamatan Gedangan tersebut menggunakan plastik warna-warni dalam mengkreasikan layang-layangnya. Plastik-plastik itu dipasang di kerangka yang terbuat dari bambu.
Agar plastik dapat melekat dengan kuat, Anam merekatkannya dengan cara menyolder dan lem. Untuk solderannya harus ekstra hati-hati, agar plastik tidak berlubang. ''Jika berlubang, layangan tidak akan terlihat cantik,'' katanya.
Menurut Anam, setiap orang bisa membuat layang-layang, tetapi untuk membuat motifnya tidak semua orang bisa. Hal ini membutuhkan ketekunan, ketelatenan, dan jiwa seni. Sehingga gambar yang dituangkan ke layang-layang menjadi sangat indah.
Anam mengatakan, hobi bermain layang-layangnya dimulai pada 2019. Pada awalnya, dia tidak bisa membuat layang-layang sama sekali. Selama enam bulan, diaa selalu gagal.
Untuk memudahkan pembuatan layang-layang, dia belajar dari YouTube. Meski begitu, tetap tidak semudah yang dilihat. Layang-layang yang dibuat masih tidak dapat terbang. Namun, Anam tidak putus asa.
Dari kegagalan demi kegagalan, Anam belajar bagaimana membuat layang-layang yang dapat terbang. Menurutnya, kunci utama layangan dapat terbang atau tidak adalah dari sayapnya.
Selama ini, setiap kali membuat layang-layang, Anam lebih memilih bambu jenis ori atau bambu duri.
Setelah mahir membuat layang-layang, pesanan pun datang. Harga yang dipatok berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu tergantung ukuran dan motifnya. ''Semakin besar dan sulit motifnya, harganya semakin mahal,'' ujarnya.
Menurut Anam, rata-rata layang-layang yang dibuat memiliki ukuran 2 hingga 3 meter. Jika melebihi tiga meter dikhawatirkan tidak bisa terbang.
Pada tahun 2020, banyak orang yang bermain layang-layang. Mungkin karena pandemi, sehingga orang harus bekerja dari rumah dan tidak bisa keluar rumah.
Hampir setiap daerah sedang booming layang-layang. Sejak saat itu hingga sekarang, setiap bulan pasti ada pesanan untuk membuat layangan. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista