Ciri khas batik ecoprint adalah motif daun, bunga dan ranting. Sengaja direplika di atas kain untuk diambil motif dan warnanya. Tanaman apa saja bisa dijadikan motif batik ecoprint ini.
Rizky Putri Pratimi
Wartawan Radar Sidoarjo
Tampilan motif yang dibuat dengan teknik ini lebih unik karena pola yang dihasilkan jadi tidak menentu. Kesan eksklusif dan berbeda dari batik lainnya menjadikan batik ecoprint lebih elegan.
Kain yang diproduksi dengan teknik ecoprint ini memiliki proses yang cukup panjang. Mulai dari teknik mordan (mordanting) sampai dengan teknik dikunci atau fiksasi. Minimal proses pengerjaan 10 hari.
Ecoprint juga berbeda dengan batik cap yang dijumpai saat ini. Batik ecoprint menggunakan bahan alami. Karena itulah batik ini ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran air, tanah maupun udara.
Diahretno Dilawati salah satu perajin yang tergabung dalam komunitas ecoprinter Jawa Timur baru empat bulan mempelajari ecoprint. Warga Desa Juwetkenongo Kecamatan Porong ini sangat serius untuk menekuni ketrampilan itu. "Cari daun yang ditemui di sepanjang arteri Porong untuk buat batik," kisah Diah.
Daun yang ia temui saat itu jarak kepyar dan jati. Kemudian digunakan sebagai motif batik. Agar menghasilkan warna yang lebih cantik, ia mencampurnya dengan warna dari daun mangga, kunir dan secang.
Lalu berapa lama proses membuat selembar kain batik ecoprint ? "Dua minggu," ungkapnya. Menggunakan bahan alami, menyebabkan pengeringan batik jadi lebih lama.
Debora Maria Ketua Untaian Ecoprint Jawa Timur menjelaskan, nilai ekonomis batik semakin tinggi apabila mampu menghasilkan jejak daun yang nyata. Artinya semakin timbul motif daun, berarti itu tekniknya tinggi. Dan tentu semakin mahal. "Untuk motifnya bisa tanaman apa saja sesuai kreativitas perajin," urainya.
Sedangkan yang saat ini paling banyak dibuat perajin yakni motif daun jarak, kenikir, china doll, daun lanang dan daun tabebuya. (*/nis) Editor : Nofilawati Anisa