Sebelum membagikan bingkisan, para tukang becak yang sebagian besar sudah usia lanjut itu diajak buka bersama. Sembari menikmati sate dan gulai ayam, BHS juga tak segan untuk duduk bersama dengan para tukang becak.
Nampak akrab, tukang becak pun tak segan untuk curhat tentang kondisi ekonomi yang kini makin sulit. "Susah cari penumpang, padahal banyak kebutuhan juga untuk lebaran," kata Sardi, salah satu tukang becak.
BHS mengungkapkan, dirinya sengaja meluangkan waktu untuk buka bersama dengan para tukang becak karena ingin sharing seputar keluh kesah mereka. "Menangkap masalah yang mereka hadapi. Mungkin nanti bisa diusulkan kepada pemerintah juga," katanya.
Pemilik PT Dharma Lautan Utama (DLU) itu juga menceritakan, dulunya ia sempat memiliki gagasan bahwa para tukang becak itu perlu diberdayakan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Caranya adalah dengan melibatkan sebagai agen kebersihan kota. "Bisa dilibatkan untuk petugas angkut sampah yang sudah disapu petugas kebersihan. Jadi sampah kota juga cepat bersih," katanya.
Di samping itu, becak juga bisa diperankan dalam ujung tombak pariwisata daerah. Mereka dibekali sejumlah pengetahuan tentang ikon-ikon wisata daerah. Terus dilatih dengan baik, sehingga bisa jadi salah satu ikon transportasi wisata daerah.
Selain soal pengetahuan pariwisata, tukang becak juga pelu dibekali wawasan tentang lalu lintas. "Pengetahuan lalu lintas mereka masih kecil. Ini perlu didorong untuk direalisasikan. Agar juga bisa tertib," imbuhnya.
Khusus untuk pembagian sembako, BHS juga berharap dapat sedikit meringankan beban kebutuhan ekonomi mereka. Paling tidak agar ikut merasa bahagia ketika lebaran tiba. Karena sejumlah kebutuhan pokok telah terpenuhi. (son/opi) Editor : Nofilawati Anisa