Wagub Jatim Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc: Dorong Kemajuan Infrastruktur hingga Transportasi di Jatim
Vega Dwi Arista• Selasa, 2 Januari 2024 | 00:55 WIB
SMART: Wagub Jatim Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc bersama Wakil Presiden RI.
SIDOARJO - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut banyak kemajuan pembangunan di Jatim mulai dari infrastruktur hingga transportasi umum.
Emil yang juga Presiden organisasi internasional Earoph (Eastern Regional Organization for Planning and Housing) ini menceritakan bagaimana mendorong pemerintah desa melalui dana-dana bantuan keuangan, sebagai sebuah insentif untuk desa berinovasi baik melalui pengembangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) maupun desa wisata.
“Nah ini adalah salah satu cara mengungkit pembangunan berkelanjutan yang berorientasi desa ditengah keterbatasan sumber-sumber pendanaan konvensional seperti anggaran,” ungkapnya.
Emil juga menceritakan pengalamannya di Jawa Timur di dunia infrastruktur dan bank dunia mengenai apa saja tantangan-tantangan pemerintah daerah.
“Kami sampaikan baik itu berupa tingkat kelayakan kredit pemerintah daerah yang tidak sama dengan pemerintah pusat, aturan-aturan yang membatasi hingga perbankan enggan memberikan pinjaman jangka panjang ataupun obligasi itu agak sulit diterbitkan lalu juga tantangan kelembagaan,” jelasnya.
“Kita tidak punya BUMN-BUMN raksasa yang bisa mendukung, baik bukan saja perspektif pengembangan proyeknya tapi juga dari sisi persiapan proyek, kompetensi inilah yang juga menjadi hambatan pemerintah daerah bisa mengembangkan proyek-proyek infrastruktur yang strategis berbasis kerjasama pemerintah swasta” lanjutnya.
Mantan Bupati Trenggalek ini juga menceritakan pengalaman dirinya untuk bisa memobilisasi berbagai bentuk pendanaan alternatif. Emil mencontohkan Trans Jatim yang sekarang aplikasinya sudah digunakan oleh ribuan bahkan sepuluh ribu pengguna.
“Kemudian ini menjadi tempat juga pengiklan tertarik untuk mengiklankan di apps trans jatim. Ini kan menjadi dana yang bermanfaat untuk menambah arus pembiayaan terhadap penyediaan transportasi publik,” jelasnya.
Emil mengatakan Pemprov Jatim kini tengah merancang proyek pembangunan transportasi terintegrasi di bumi Majapahit. Pembangunan transportasi terintegrasi tersebut kata Emil, akan menghubungkan pusat perekonomian di Jatim yakni antara lain Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan (Gerbangkertosusila).
“Kita sudah temukan formatnya yaitu melalui SUMP atau Sustainable Urban Mobility Plan,” katanya.
Lebih lanjut Emil menyampaikan, perancangan proyek SUMP telah dimulai sejak tahun 2022 lalu. Hal ini didasari oleh Keputusan Gubernur Jawa Timur No 188/743/KPTS/013/2022 tentang Tim Koordinasi Pengembangan Rencana Moblitas Perkotaan Berkelanjutan Untuk Wilayah Metropolitan Surabaya Periode Tahun 2022-2024 dan stakeholder terkait dalam penyusunan Sustainable Urban Mobility Plan (SUMP) di Wilayah Gerbangkertosusila Plus.
Tujuan dari proyek tersebut selain sebagai upaya menciptakan sistem transportasi yang terintegrasi, juga sebagai langkah dari pemerintah dalam menyikapi maraknya penggunaan kendaraan pribadi yang berakibat pada kemacetan dan polusi udara.
“Kita melihat ada kebutuhan yang sangat mendesak untuk segera menyikapi dominannya penggunaan kendaraan pribadi. Ini kalau tidak dilakukan penindakan struktural, ini akan mengakibatkan kemacetan yang luar biasa, polusi yang luar biasa dan akan menghambat potensi pertumbuhan ekonomi di Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan wilayah yang lain,” katanya.
Dari hasil kajian SUMP yang dilakukan pemprov Jatim bersama Konsultan EGIS Rail SA, ditemukan bahwa kebutuhan angkutan umum antar wilayah terutama Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo sebanyak 0,73 juta perjalanan/hari ke dan dari Surabaya. Namun, layanan angkutan umum yang menghubungkan titik-titik lokasi tersebut rata-rata okupansinya rendah. Hal ini disebabkan oleh minimnya aksesibilitas menuju ke dan dari lokasi transit.
“Jadi ini yang mau kita benahi. Kita ingin agar supaya sarana transportasi kita di Jawa Timur terintegrasi seperti halnya di Jakarta, dengan KRL, MRT atau LRT. Nah Pola yang saat ini sudah disiapkan adalah peningkatan kapasitas jaringan kereta api dari single track menjadi double track,” katanya.
Sebagai informasi, kapasitas kereta yang saat ini beroperasi dalam sehari di Jawa Timur adalah sebesar 27 ribu. Angka ini akan meningkat menjadi 200 ribu kapasitas, bila terjadi perubahan dari single track menjadi double track.
“Itu akan meningkatkan kapasitas hingga 10 kali lipat, karena bisa ada yang paralel antar kereta regional dengan kereta commuter. Lalu pola kedua yang kita lakukan adalah mengganti kereta disel menjadi listrik. Stasiun-stasiun utama pun akan direkonfigurasi supaya bisa efisine dalam mengatur lalu lintasnya kereta,” katanya.
“Nah ini tentu dibarengi dengan penanganan persimpangan sebidang. Supaya arusnya lebih banyak. Itu akan meningkatkan kapasitas tetapi harus terpadu dengan feeder,” tambahnya.
Emil juga menyampaikan, di akhir tahun ini, pihaknya akan segera merampungkan pembiayaan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang digadang-gadang menjadi KRL pertama di bumi Majapahit. Rencananya konstruksi akan dimulai tahun 2025 atau sekitar kurang lebih satu tahun lagi.
“Yang sudah di depan mata, mohon doa restunya adalah Surabaya Regional Railway Line project. Yang harapan kita tahun ini sudah difinalkan kesepakatan pembiayaannya,” jelasnya. (mus/opi/vga)