RADAR SIDOARJO - Dugaan keracunan massal yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mengarah pada makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
MBG itu diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.
Baca Juga: Ketua Asrama Sebut Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG dari SPPG Kalitengah Sidoarjo
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut SPPG Kalitengah telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Namun, sertifikasi tersebut tidak serta-merta menjamin makanan terbebas dari persoalan apabila dalam proses pengolahan maupun distribusinya terdapat tahapan yang menyimpang dari Standar Operasional Prosedur (SOP).
Baca Juga: Ini Menu MBG yang Diduga Disantap 268 Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo hingga Keracunan
Hal itu disampaikan Emil saat meninjau kondisi para santri yang menjalani perawatan di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Rabu (2/9) dini hari.
Emil mengatakan, berdasarkan penelusuran awal, terdapat kesamaan sumber konsumsi dari sejumlah satuan pendidikan yang mengalami keluhan serupa.
Baca Juga: Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG Disebar ke Sejumlah Rumah Sakit Sidoarjo
Selain santri Ponpes Manbaul Hikam, keluhan juga dilaporkan dari sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah.
"Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin," kata Emil.
Baca Juga: Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Tanggulangin Sidoarjo Diduga Keracunan MBG
Menurut dia, SPPG tersebut sebenarnya telah memenuhi sejumlah persyaratan. Sarana dan prasarana dinilai memadai, sejumlah tenaga telah memiliki sertifikasi penjamah makanan, serta sertifikasi halal juga telah diperoleh.
Baca Juga: Temuan Ayam MBG Kurang Matang di Tarik Sidoarjo Jadi Bahan Evaluasi SPPG
Namun, Emil menegaskan penyebab dugaan keracunan tetap harus ditelusuri secara menyeluruh. Sebab, persoalan tidak hanya berkaitan dengan kondisi dapur dan sistem yang telah diverifikasi.
"SLHS ini menilai sistem dan sarpras. Tetapi tetap saja dengan sarpras dan sistem, masih ada ruang kalau misalnya bahan makanannya dari awalnya, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa saja menyebabkan masalah," jelasnya.
Karena itu, dapur SPPG Kalitengah untuk sementara disuspend atau dihentikan operasionalnya guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Emil menyebut hasil pemeriksaan laboratorium nantinya tidak cukup hanya untuk mengetahui adanya bakteri. Pemerintah perlu mengungkap akar persoalan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Tadi kita juga coba tanya, menunya apa sih hari ini? Menunya nasi dengan telur orak-arik dan ada sayur," ujarnya.
Sempat muncul dugaan sayur menjadi sumber masalah karena beberapa santri mengeluhkan makanan tersebut. Namun, temuan di lapangan menunjukkan ada santri yang tidak mengonsumsi sayur tetapi tetap mengalami keluhan.
Emil menilai kondisi tersebut belum bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa sayur bukan sumber persoalan. Sebab, makanan dikemas secara bersamaan sehingga masih dimungkinkan terjadi kontaminasi silang.
"Enggak bisa diisolir bahwa, 'Oh, karena yang enggak makan sayur juga kena, artinya bukan sayurnya yang masalah.' Enggak segampang itu," tegasnya.
Penyelidikan lebih lanjut akan dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) bersama pihak terkait, termasuk melalui kajian epidemiologi untuk mengetahui sumber dan pola kejadian.
Di sisi lain, Emil mengapresiasi penanganan cepat RSUD RT Notopuro Sidoarjo bersama Dinas Kesehatan, BPBD, dan Pemkab Sidoarjo. Meski ratusan pasien datang dalam waktu singkat, seluruh pasien disebut tetap mendapatkan penanganan.
Langkah awal yang dilakukan tenaga medis adalah rehidrasi untuk mengatasi kehilangan cairan, kemudian pemberian obat sesuai kondisi masing-masing pasien.
"Memang tadi ada yang menggunakan folding bed dari BPBD, tetapi infusnya memadai. Karena langkah pertama yang diambil oleh pihak rumah sakit adalah rehidrasi," katanya.
Penanganan juga tidak dilakukan secara seragam. Pasien dengan kondisi khusus, termasuk yang memiliki penyakit penyerta seperti asma maupun pasien yang mengalami alergi obat, mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya.
Emil memastikan tidak ada pasien yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Ia meminta kabar mengenai adanya korban meninggal yang sempat beredar tidak dipercaya.
"Tadi ada kabar, mohon maaf, meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal," tegasnya.
Sejumlah pasien bahkan sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Folding bed yang sebelumnya digunakan untuk menampung pasien juga mulai dilipat karena sebagian pasien telah meninggalkan rumah sakit.
Meski demikian, tenaga medis tetap disiagakan untuk mengantisipasi kedatangan pasien baru.
Emil juga mengingatkan kemungkinan masih ada siswa atau santri yang mengalami gejala tetapi memilih tidak datang ke rumah sakit karena menganggap kondisinya ringan dan bisa ditangani sendiri.
Karena itu, Pemprov Jatim bersama Pemkab Sidoarjo akan melakukan pemantauan terhadap kehadiran siswa di sekolah-sekolah penerima MBG.
"Besok kita akan cek di sekolah-sekolah itu, ada yang absen enggak? Kalau ada yang absen, alasan sakit ataupun apa, kita akan jemput bola," ujarnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada siswa yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan penanganan medis secara optimal.
Sementara itu, bagi santri yang sudah diperbolehkan pulang tetapi belum dijemput keluarga, mereka akan dikembalikan ke pondok. Dinas Kesehatan juga telah membuka posko kesehatan di lingkungan Ponpes Manbaul Hikam melalui Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).
Posko tersebut disiapkan untuk memantau kondisi santri sekaligus memberikan penanganan apabila masih terdapat keluhan.
Emil juga meluruskan bahwa SPPG yang memproduksi makanan MBG tersebut bukan milik atau dikelola oleh pihak pesantren.
"Ini bukan dapurnya pesantren," tegasnya.
Pemerintah kini masih melakukan pendataan dan penyelidikan untuk memastikan jumlah penerima MBG yang mengalami keluhan serta mengetahui secara pasti penyebab kejadian tersebut.
Sebelumnya, ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam mengalami keluhan yang diduga akibat keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG. Makanan tersebut diketahui disuplai SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Selain dari lingkungan Ponpes Manbaul Hikam, keluhan serupa juga ditemukan pada penerima MBG di sejumlah satuan pendidikan lain yang mendapatkan makanan dari SPPG yang sama. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo