RADAR SIDOARJO - Lahan yang selama seperempat abad hanya menjadi lahan tidur kini berubah menjadi sumber pangan. Di lahan seluas sekitar 5.860 meter persegi di depan Lapas Kelas I Surabaya atau Lapas Porong, Sidoarjo, jagung kembali dipanen untuk kedua kalinya dalam setahun.
Panen itu menghasilkan sekitar 250 kilogram jagung. Hasil tersebut berasal dari dua varietas, yakni jagung pulut dan jagung manis, yang ditanam di lahan SAE (Sarana Asimilasi dan Edukasi) 36.
Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman mengatakan, panen dilakukan secara bertahap. Jagung tidak dipanen secara serentak karena tingkat kematangannya berbeda-beda.
Baca Juga: Wabup Mimik Ajak Warga Borong Produk Lokal di Gebyar UMKM Sidoarjo
“Panennya dilakukan bertahap, tidak serentak, menyesuaikan tingkat kematangan jagung,” ujar Sohibur, Jumat (28/8).
Menurutnya, pemanfaatan lahan SAE 36 bukan sekadar upaya mengubah lahan kosong menjadi produktif. Program tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Menariknya, hasil panen jagung tersebut tidak diarahkan untuk diperjualbelikan. Jagung yang dihasilkan justru dimanfaatkan untuk kegiatan sosial sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Baca Juga: Gebyar UMKM Sidoarjo di Ramayana Ciplaz Dimulai, Bazar Produk Lokal Ramaikan Ciplaz
“Dari SAE 36, tumbuh keterampilan, ketahanan pangan, dan kepedulian sosial,” katanya.
Sohibur menyebut, keberhasilan panen tersebut tidak lepas dari kerja keras warga binaan yang dilibatkan dalam proses pengelolaan lahan. Pada tahap awal, terdapat tujuh warga binaan yang secara intensif terlibat dalam kegiatan pertanian tersebut.
Mereka merupakan warga binaan yang telah menjalani setengah masa pidana dan sebelumnya melewati proses asesmen. Mayoritas warga binaan yang dilibatkan merupakan narapidana kasus pidana umum.
Baca Juga: Curi Kabel Penangkal Petir di Trosobo Sidoarjo, Tertangkap usai Tepergok Satpam
Bagi pihak Lapas Kelas I Surabaya, keberhasilan memanen jagung untuk kedua kalinya dalam setahun menjadi bukti bahwa lahan yang sebelumnya terbengkalai selama puluhan tahun dapat diubah menjadi ruang pembinaan sekaligus lahan produktif.
Program tersebut pun tidak berhenti pada satu kali siklus panen. Pengelolaan SAE 36 akan terus dikembangkan agar kegiatan pertanian dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Program ini dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama yang berada di sekitar Lapas Porong,” tegas Sohibur.
Baca Juga: Rutan Medaeng Sidoarjo Terima 41 Tahanan Kasus Love Scamming dari Kejari Surabaya
Pemanfaatan lahan SAE 36 akhirnya tidak hanya menghasilkan jagung. Lebih dari itu, lahan tersebut menjadi tempat warga binaan belajar bertani, membangun keterampilan, sekaligus berkontribusi melalui hasil panen yang diberikan untuk kegiatan sosial.
Lahan tidur yang selama 25 tahun terlelap itu kini mulai menunjukkan wajah baru, produktif, bermanfaat, dan menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian warga binaan serta ketahanan pangan. (dik/gun)
Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar sidoarjo