RADAR SIDOARJO - Program Adiwiyata di SMPN 1 Taman, Sidoarjo, tak hanya mengandalkan peran guru. Para siswa justru didorong menjadi motor penggerak budaya peduli lingkungan di sekolah.
Mereka tidak sekadar belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan berbagai kegiatan yang bernilai lingkungan sekaligus memiliki potensi ekonomi.
Hal itu terlihat dalam kegiatan pembinaan dan pendampingan Sekolah Adiwiyata SMPN 1 Taman kepada SMPN 2 Waru dan SMPN 3 Krian, Jumat (11/9). Dalam kegiatan tersebut, kader Adiwiyata SMPN 1 Taman mendapat kesempatan memaparkan berbagai praktik yang telah mereka lakukan.
Di hadapan kader Adiwiyata dari SMPN 2 Waru dan SMPN 3 Krian, para siswa mempresentasikan sejumlah produk dan kegiatan. Di antaranya pembuatan sirup belimbing wuluh, olahan daun cincau, permen jahe, wedang uwuh, pengomposan, hingga teh bunga telang.
Tak hanya memaparkan prosesnya, para siswa juga melayani sesi tanya jawab. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mereka untuk belajar berbicara di depan orang lain, menjelaskan hasil karya, sekaligus berbagi pengalaman dalam menjalankan gerakan peduli lingkungan di sekolah.
Kepala SMPN 1 Taman Dra. Masroh Hidajati mengatakan, keterlibatan langsung siswa menjadi bagian penting dalam pembinaan Adiwiyata. Menurutnya, kemampuan tampil dan menyampaikan gagasan perlu terus dilatih karena kader Adiwiyata akan mengalami regenerasi.
“Kalau bapak ibu guru tampil sudah biasa. Anak-anak perlu dilatih. Apalagi tim kader Adiwiyata selalu mengalami perubahan,” ujarnya.
Masroh menjelaskan, melalui keterlibatan tersebut, setiap generasi siswa diharapkan dapat terus belajar dan meneruskan gerakan peduli lingkungan secara berkesinambungan. Karena itu, dalam pendampingan ketiga tersebut, pihaknya sengaja menghadirkan kelompok kerja (pokja) yang melibatkan unsur siswa.
“Kami minta tolong hadirkan juga pokja-pokja unsur anak-anak supaya saling memotivasi dan saling menginspirasi,” jelasnya.
Menurutnya, ketika siswa sudah bergerak, budaya peduli lingkungan di sekolah akan lebih mudah berkembang. Guru pun secara otomatis akan ikut terdorong untuk mendukung gerakan tersebut.
“Kalau anak-anak itu bergerak, otomatis gurunya juga bergerak,” tegasnya.
Ia menambahkan, gerakan tersebut tidak berhenti pada kegiatan di lingkungan sekolah. Siswa diarahkan agar memiliki perilaku ramah lingkungan yang nantinya bisa diterapkan di rumah maupun di tengah masyarakat.
“Jadi kalau anak-anak di sekolah sudah kami gerakkan, kami budayakan perilaku-perilaku ramah lingkungan hidup, harapannya anak-anak menjadi motor penggeraknya, baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat,” katanya.
Menariknya, berbagai produk yang dipresentasikan dalam kegiatan tersebut merupakan hasil praktik para siswa sendiri. Mereka mencari sumber informasi, mempelajari cara pembuatannya, kemudian mempraktikkannya hingga menghasilkan produk.
Bagi Masroh, proses tersebut tidak hanya mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan. Siswa juga mendapatkan pengalaman berwirausaha dan belajar untuk menghasilkan sesuatu dari kreativitas mereka sendiri.
“Pembuatan sirup belimbing wuluh dan lainnya itu dari anak-anak sendiri. Mereka mencari sumbernya, kemudian dipraktikkan. Jadi anak-anak sudah terlihat belajar wirausaha,” ungkapnya.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme para siswa. Menurutnya, anak-anak sebenarnya mudah diarahkan untuk melakukan hal-hal positif ketika mendapatkan pendampingan dan kesempatan untuk mencoba.
“Alhamdulillah, pada dasarnya anak-anak mudah digerakkan. Asalkan kita betul-betul mau membantu menunjukkan hal-hal baik dan positif,” tuturnya.
Masroh mencontohkan, produk permen jahe buatan siswa yang dicicipinya memiliki tekstur dan rasa yang cukup baik. Hal sederhana tersebut, menurutnya, menjadi pengalaman berharga bagi siswa untuk berani mencoba, belajar, dan mengembangkan kemampuan.
Ia berharap pembinaan Adiwiyata tidak hanya memberikan dampak bagi siswa selama berada di bangku sekolah. Lebih jauh, kebiasaan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mereka ketika terjun ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Dampaknya bukan hanya saat ini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Anak-anak mendapatkan bekal untuk kemandirian selanjutnya ketika hidup di rumah, masyarakat, berbangsa dan bernegara,” tandasnya.
SMPN 1 Taman sendiri terus berkomitmen mendampingi sekolah lain dalam mengembangkan program Adiwiyata. Pendampingan kepada SMPN 2 Waru dan SMPN 3 Krian diharapkan tidak hanya menjadi transfer pengetahuan, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk saling belajar, memotivasi, dan menginspirasi dalam membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan. (nas/dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo