Dispendikbud Sidoarjo Gerak Cepat Berikan Solusi bagi Tiga Bersaudara yang Nyaris Putus Sekolah karena Kurang Mampu

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 17:13 WIB
PEDULI: Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendikbud Sidoarjo, Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., (dua dari kanan) bersama Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Moch Dhamroni Chudlori dan Kepala Desa Gelang Dedy Dwi Nugroho mendatangi langsung rumah keluarga tersebut pada Kamis (6/8). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
PEDULI: Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendikbud Sidoarjo, Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., (dua dari kanan) bersama Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Moch Dhamroni Chudlori dan Kepala Desa Gelang Dedy Dwi Nugroho mendatangi langsung rumah keluarga tersebut pada Kamis (6/8). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Kemiskinan nyaris memutus masa depan tiga bersaudara asal Dusun Karangploso, Desa Gelang, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo.

Anak-anak dari pasangan Murwantono dan Rismawati Tauriya itu terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Sang ayah yang bekerja sebagai pemulung hanya mampu membawa pulang penghasilan sekitar Rp 1,4 juta per bulan.

Baca Juga: Dua Bersaudara di Gedangan Gagal Lanjut Sekolah karena Biaya, Komisi D Desak Dispendikbud dan Dinsos Bergerak Cepat

Namun, harapan keluarga itu kembali terbuka. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat setelah menerima laporan tersebut.

Mulai Jumat (7/8), ketiga anak dipastikan memperoleh akses pendidikan tanpa terkendala biaya, lengkap dengan bantuan perlengkapan sekolah.

Baca Juga: SPMB, Dispendikbud Sidoarjo Tambah Daya Tampung SMP Negeri

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendikbud Kabupaten Sidoarjo, Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., didampingi Kepala Bidang (Kabid) Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Kabupaten Sidoarjo Dr. Lilik Sulistyowati, S.Pd., M.Pd., bersama Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Moch Dhamroni Chudlori dan Kepala Desa Gelang Dedy Dwi Nugroho mendatangi langsung rumah keluarga tersebut pada Kamis (6/8).

Netti menjelaskan, anak pertama, Mochamad Ageng Aji Segara Samudra (15), yang sebelumnya putus sekolah saat akan naik ke kelas IX karena menunggak SPP di sekolah swasta, akan dipindahkan ke SMP Negeri 1 Tulangan.

Baca Juga: Tiga SMP Negeri Porong Sidoarjo Kolaborasi PKB, Dispendikbud Tekankan Implementasi untuk Dongkrak Mutu Pendidikan

"Besok sudah bisa langsung masuk sekolah. Kami juga berkoordinasi dengan pihak sekolah agar kebutuhan perlengkapan sekolah dapat dipenuhi melalui dana BOSDA," ujar Netti, Kamis (6/8).

Sementara adiknya, Muhamad Anjangsana Pandawa Kalimasada (5), yang sempat tidak didaftarkan ke taman kanak-kanak karena keterbatasan biaya, dipastikan diterima di TK Dharma Wanita. Seluruh kebutuhan sekolah, termasuk seragam, akan difasilitasi.

Sedangkan anak ketiga, Mochamad Agung Kharisma Samudra (9), yang telah diterima di SD Negeri Gelang 2, juga akan memperoleh bantuan seragam dan perlengkapan sekolah melalui dana BOSDA setelah administrasinya dilengkapi.

Netti menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen tidak membiarkan ada anak yang gagal mengenyam pendidikan hanya karena persoalan ekonomi.

"Ini menjadi perhatian Bapak Bupati dan Ibu Wakil Bupati. Jangan sampai ada anak di Sidoarjo yang tidak sekolah karena faktor ekonomi. Pemerintah memiliki berbagai skema bantuan, mulai Program Indonesia Pintar (PIP), beasiswa, dukungan Baznas, hingga pemanfaatan dana BOSDA untuk membantu kebutuhan perlengkapan sekolah," jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pendidikan sebagai jalan memutus rantai kemiskinan. Ia mewanti-wanti jangan sampai orang tua mewariskan kemiskinan kepada anak-anak. 

"Apapun kondisi orang tua, yang harus diwariskan adalah pendidikan, karena pendidikan yang mampu mengubah kehidupan mereka," tegasnya.

Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Moch Dhamroni Chudlori, mengapresiasi respons cepat Dikbud dalam menangani persoalan tersebut.

"Begitu menerima informasi, langsung ditindaklanjuti. Besok anak ini sudah bisa kembali bersekolah. Saya berharap langkah seperti ini juga dilakukan seluruh OPD, tidak perlu menunggu persoalan menjadi viral baru bergerak," katanya.

Dhamroni juga memastikan akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Baznas apabila keluarga tersebut masih membutuhkan bantuan lain. Berdasarkan data pemerintah desa, keluarga itu masuk kategori desil tiga atau keluarga tidak mampu.

Kepala Desa Gelang, Dedy Dwi Nugroho, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam membantu warganya.

"Kami tidak bisa bekerja sendiri. Persoalan masyarakat harus diselesaikan bersama-sama dengan pemerintah daerah, DPRD, dan instansi terkait agar solusi bisa diberikan dengan cepat dan tepat," ujarnya.

Ia mengungkapkan, Murwantono sehari-hari bekerja memilah sampah dan mengumpulkan barang bekas dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga.

Sementara itu, Murwantono mengaku sangat bersyukur karena anak-anaknya akhirnya dapat kembali bersekolah.

"Alhamdulillah, saya sangat bahagia. Anak-anak akhirnya bisa sekolah lagi," ucapnya.

Ia mengaku selama ini tidak mampu membayar SPP sekolah anak sulungnya yang sebesar Rp 75 ribu per bulan. Kondisi ekonomi membuat keluarganya hanya sanggup membayar sekali, kemudian menunggak hingga sang anak merasa malu untuk kembali ke sekolah.

"Anak-anak sebenarnya semuanya ingin sekolah. Tapi karena orang tuanya tidak mampu, anak jadi malu kepada guru karena tidak bisa bayar. Akhirnya memilih berhenti sekolah," tuturnya.

Murwantono juga menceritakan bahwa rumah sederhana berukuran sekitar 3 x 5 meter yang ditempatinya dibangun dari tabungan saat masih bekerja sebagai sopir. Sebagian biaya pembangunan diperoleh melalui pinjaman bank yang kini juga mengalami kredit macet akibat kehilangan pekerjaan.

Meski menghadapi berbagai kesulitan ekonomi, ia mengaku tidak pernah kehilangan harapan agar ketiga anaknya tetap dapat mengenyam pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih baik. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo
Dispendikbud Komisi D Tulangan Siswa Sekolah