
RADAR SIDOARJO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat merespons laporan dua bersaudara asal Dusun Pager, Desa Sawotratap, Kecamatan Gedangan, yang terancam putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Mulai Jumat (24/7), keduanya dipastikan dapat kembali melanjutkan pendidikan tanpa dipungut biaya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Netty Lastiningsih, M.Pd., memastikan Alhilmi Ilman (12) resmi diterima di SMP Negeri. Sementara sang kakak, Maulana Yusuf Alamsyah (15), juga dipastikan tetap dapat melanjutkan sekolahnya tanpa terkendala biaya.
"Insyaallah kami pastikan anak ini bersekolah di SMP Negeri. Seluruh kebutuhan sekolah, mulai seragam, tas, sepatu hingga alat tulis, kami penuhi semuanya," ujar Netty, Kamis (23/7).
Menurutnya, Alhilmi ditempatkan di SMP Negeri di Waru karena lokasinya paling dekat dengan tempat tinggal keluarga. Seluruh proses administrasi telah rampung sehingga statusnya sudah resmi sebagai peserta didik baru.
Baca Juga: BNNK Sidoarjo Sasar 10 Sekolah, Siapkan 450 Alat Tes Urine
"Sudah kami komunikasikan dengan pihak sekolah. Proses pendaftarannya selesai hari ini. Besok (hari ini, red) statusnya sudah menjadi siswa. Memang Jumat dan Sabtu ada kegiatan parenting sehingga belajar dari rumah, tetapi secara administrasi sudah tidak ada kendala," jelasnya, Kamis (23/7).
Netty menegaskan seluruh biaya pendidikan maupun perlengkapan sekolah telah ditanggung pemerintah.
Baca Juga: Hari Pertama Sekolah, SDN Trosobo Sidoarjo Lepaskan Ratusan Burung sebagai Simbol Harapan
"Gratis semua. Semuanya sudah disiapkan, jadi tidak ada masalah lagi," tegasnya.
Ia menjelaskan, pihaknya langsung melakukan penelusuran setelah menerima informasi adanya anak yang tidak melanjutkan sekolah. Tim Dikbud mendatangi SDN Sawotratap 2, MTs Badrus Salam, hingga menemui ayah, guru, dan kepala sekolah untuk memastikan penyebab sebenarnya.
Baca Juga: Lima Bus Sekolah Gratis di Sidoarjo Masuk Tahap Pengadaan
Hasil penelusuran menunjukkan Alhilmi tidak pernah mengikuti Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMP Negeri. Sejak awal, ia bersama ayahnya memilih mendaftar ke MTs Badrus Salam agar bisa bersekolah bersama sang kakak.
"Anak ini memang tidak mendaftar melalui SPMB SMP Negeri. Dari data kami, tidak ada nomor pendaftarannya. Guru sebenarnya sudah memberikan token dan menawarkan jalur afirmasi, tetapi ayah dan anak memilih melanjutkan ke MTs Badrus Salam," terang Netty.
Ia menambahkan, pihak sekolah dasar telah menjalankan pendataan sesuai prosedur. Karena Alhilmi tercatat akan melanjutkan pendidikan ke MTs, sekolah menganggap proses pendidikannya telah berlanjut.
Namun, sekitar tiga hari lalu guru mengetahui Alhilmi ternyata tidak pernah masuk sekolah meski sudah tercatat sebagai calon siswa di MTs tersebut.
"Guru kelasnya sangat peduli. Setelah bertemu alumni yang bersekolah di MTs itu, baru diketahui Alhilmi ternyata tidak pernah masuk. Dari situlah guru melakukan penelusuran hingga akhirnya diketahui anak ini benar-benar tidak melanjutkan sekolah," ungkapnya.
Netty memastikan tidak ada unsur pembiaran dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan. Berdasarkan hasil verifikasi, Alhilmi memang telah terdaftar di MTs Badrus Salam, tetapi tidak pernah mengikuti kegiatan belajar mengajar.
"Bukan berarti sekolah atau Dinas Pendidikan membiarkan. Kami juga sudah datang ke MTs dan hasilnya memang benar, anak ini terdaftar tetapi tidak pernah hadir di sekolah," jelasnya.
Melihat kondisi ekonomi keluarga, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo akhirnya memutuskan memindahkan Alhilmi ke SMP Negeri terdekat agar dapat memperoleh pendidikan gratis. Sementara itu, Maulana dipastikan tetap dapat melanjutkan pendidikannya setelah dilakukan koordinasi dengan pihak MTs dan Kementerian Agama.
Netty menegaskan, Pemkab Sidoarjo akan terus memastikan tidak ada anak yang putus sekolah karena alasan ekonomi.
"Anak-anak seperti ini harus kita bantu. Pemerintah harus hadir. Bapak Bupati Sidoarjo juga selalu mengingatkan agar jangan sampai jumlah anak yang tidak bersekolah bertambah. Anak-anak yang putus sekolah karena faktor ekonomi harus menjadi perhatian utama," pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo