RADAR SIDOARJO - Tak perlu jauh-jauhan bertandang ke dataran tinggi Malang untuk menikmati sensasi memetik buah segar langsung dari tangkainya.
Di Desa Sidorejo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, sepetak lahan desa seluas 550 meter persegi berhasil disulap menjadi destinasi wisata petik melon premium berbasis greenhouse hidroponik yang tidak hanya menyegarkan mata, tetapi juga mendatangkan omzet puluhan juta rupiah.
Baca Juga: Cara Sehat dengan Rebusan Buah Belimbing : Manfaat dan Tips Konsumsi
Wisata Petik Melon Premium yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitrausaha Sidorejo ini kini menjadi magnet rekreasi keluarga baru di tingkat desa.
Mengusung konsep ketahanan pangan modern, kawasan perkebunan hidroponik tersebut membudidayakan sekitar 1.480 buah melon unggulan dengan tingkat kemanisan ekstra (brix 15-17).
Baca Juga: Disperindag Relokasi Pedagang Sayur dan Buah di Pasar Porong
Memasuki masa panen ketiga, suasana greenhouse tampak semarak. Puluhan pengunjung, yang didominasi rombongan ibu-ibu dan keluarga, antusias menyusuri lorong-lorong hijau.
Mereka sibuk memilih, memetik buah favorit secara mandiri, hingga berfoto selfie di antara rimbunnya tanaman.
Baca Juga: Truk Muat Buah Terguling di Tol Sidoarjo, Seruduk Motor Mobil Masuk Sungai
Kepala Unit Perkebunan BUMDes Mitrausaha Sidorejo, Solikin, menjelaskan bahwa budidaya ini mengandalkan sistem hidroponik dengan ketercukupan nutrisi AB Mix secara terukur. Terdapat tiga varietas melon premium yang dikembangkan di lokasi ini:
1. Sweet Lavender: Memiliki ciri khas kulit berwarna kuning cerah dengan daging buah manis dan berair (juicy).
Baca Juga: Menko Airlangga Ajak Berbagi Buah Untuk Tingkatkan Imunitas
2. The Blues: Hadir dengan kulit hijau dan daging buah berwarna oranye yang segar.
3. Sweetnet 9: Menjadi idola utama berkat kulit putihnya, tekstur daging buah yang halus, serta tingkat kemanisan paling tinggi di antara varietas lainnya.
"Untuk harga, kami sesuaikan dengan standar pasar wisata, yakni rata-rata Rp 30 ribu per kilogram. Luar biasanya, seluruh hasil panen langsung habis diserap oleh para pengunjung yang datang. Kami tidak perlu lagi memutarnya ke pasar konvensional," ungkap Solikin, Minggu (11/10).
Dari sisi finansial, inovasi ini terbukti sangat menjanjikan. Dalam satu siklus panen yang berlangsung sekitar 70 hari, perkebunan ini mampu mengantongi omzet bersih hingga Rp 19 juta dari total pendapatan kotor sekitar Rp 44 juta dengan modal awal sekitar Rp 25 juta.
Meski menjanjikan, Solikin mengakui bahwa budidaya hidroponik tetap memiliki tantangan tersendiri, terutama perubahan cuaca ekstrem dan risiko penyakit layu fusarium saat musim kemarau.
Untuk menekan tingkat kerusakan tanaman agar tak melebihi 20 persen, pengelola secara berkala menguras dan memperbarui nutrisi pada tandon air.
Kualitas unggulan hasil panen ini dirasakan langsung oleh para pengunjung. Nur Kholila, salah seorang pengunjung, mengaku sangat puas dengan sensasi tekstur dan rasa buah yang dipetiknya.
"Rasanya manis dan ada renyahnya, terutama untuk jenis yang daging hijau ini. Harganya sangat terjangkau untuk kualitas sebagus ini," ujar pengunjung asal Sidoarjo itu.
Hal senada diungkapkan Evi, pengunjung asal Sidoarjo yang memboyong keluarganya. Menurutnya, wisata petik melon ini membantu warga sekitar.
"Tanpa harus jauh-jauh ke Malang, di desa sendiri kita sudah bisa petik buah langsung dari pohonnya. Melonnya lebih segar, manis, dan teksturnya kriuk. Kualitasnya benar-benar premium," tuturnya.
Inovasi produktif BUMDes Mitrausaha Sidorejo ini pun mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Sidoarjo, Subandi. Ia menilai keberhasilan greenhouse Desa Sidorejo bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Sidoarjo dalam mengoptimalkan aset desa menjadi kegiatan ekonomi bernilai tinggi.
"Ini pasar premium karena manis sekali. Kualitas rasa seperti ini menjadi modal besar untuk menembus pasar modern," ujar Subandi sebelumnya.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mendorong desa agar tidak hanya memanfaatkan lahan secara konvensional, tetapi juga menciptakan inovasi berbasis teknologi yang mendukung ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Ke depan, BUMDes Mitrausaha Sidorejo berencana memperluas jangkauan promosi secara digital melalui media sosial guna menjaring lebih banyak wisatawan dan memperkuat peran desa sebagai pelopor ekonomi mandiri. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo