Seperti produk busana dan beragam kerajinan dari belasan bank sampah ditampilkan di parkir timur GOR Sidoarjo, Minggu (20/2). Di Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) karya tersebut dilombakan.
Salah satu busana daur ulang yang paling banyak menyedot perhatian adalah karya dari Bank Sampah Telaga Indah Desa Sidokerto. Ketua bank sampah Rahayu menjelaskan, produk tersebut dibuat dari kumpulan botol air mineral. Agar makin meriah, diberi tambahan merah cerah.
Menurut Rahayu, keberadaan bank sampah tidak hanya mendatangkan kreativitas membuat beragam produk.
"Lebih jauh, dampaknya bisa mengurangi jumlah sampah ke TPST hingga TPA. Manfaatnya sudah kami rasakan betul selama empat tahun," katanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Bank Sampah Srikandi Lingkungan Sidoarjo Mailiya Hurmatud Diyanah mengungkapkan, di Sidoarjo ada 200 bank sampah yang masih aktif saat ini. 100 bank sampah lagi mati suri di tengah masa pandemi ini.
Dirinya mengharapkan ratusan bank sampah tersebut bisa terus eksis menyebarkan semangat 3R.
"Kemudian untuk yang mati suri semoga bisa aktif kembali," harapnya.
Meskipun demikian, kata Ana panggilan akrabnya, belakangan ini mulai muncul kembali semangat masyarakat untuk mendirikan bank sampah.
"Seperti di Kecamatan Taman dan Krian banyak bermunculan bank sampah baru," ungkapnya.
Menurut Ana, pemberdayaan bank sampah paling aktif berada di Kecamatan Candi, Buduran, Tulangan, Tanggulangin dan Porong.
Dikatakannya, melalui bank sampah, kelompok masyarakat yang terdiri dari 20-40 kepala keluarga bisa mendapatkan minimal Rp 500 ribu dari pendapatan menimbang sampah plastik per bulan.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Dinas Hidup dan Kebersihan Sidoarjo Luh Yuni Areni mengharapkan, agar 100 bank sampah non aktif itu bisa digalakkan kembali.
"Dengan kondisi TPA Jabon yang penuh, maka pemilahan sampah dari rumah sangat diutamakan," ungkapnya. (rpp/vga)
Editor : Vega Dwi Arista