Korban Edi Heri Wardoyo menyebut, aksi pelemparan ke rumahnya tersebut terjadi sekitar pukul 04.45. Saat sedang Salat Subuh, dirinya mendengar bunyi pelemparan beberapa kali. Namun yang paling keras, terdengar dari arah depan rumah.
"Nah, rupanya yang paling keras saat kaca depan rumah pecah. Sontak saja saya dan keluarga bingung," katanya, Senin (20/6).
Wardoyo merasa jika dirinya selama ini tak memiliki musuh. Rupanya, aksi teror semacam itu sudah beberapa kali terjadi di rumahnya. Sementara dalam aksi Minggu pagi itu, dirinya menemukan sebuah botol miras yang diduga sebagai alat pelemparan ke rumahnya.
Sementara dari rekaman CCTV yang ada, tampak gerombolan pemuda berpakaian serba hitam melintas di sekitar lokasi. Satu orang terlihat turun dari motor dan berlari menuju rumah Wardoyo. Setelah sampai di depan rumah, aksi pelemparan itu pun dilakukan.
"Saya heran, karena sejak September 2021 rumah saya ini jadi sasaran. Enggak tahu salah saya apa. Padahal di sini saya sedang mengasuh anak yatim," bebernya.
Wardoyo mengaku, jika di rumahnya bukan murni sebuah padepokan silat. Akan tetapi tempat anak mengaji yatim piatu. Sudah 5 hingga 12 tahun. Namun karena aksi teror terus berlanjut, aktivitas tersebut diberhentikan.
"Awalnya ekstrakurikuler silat kami hentikan. Tapi karena anak-anak masih trauma, ngajinya juga terpaksa saya hentikan," imbuhnya.
Penasihat hukum Wardoyo, Rahadi Sri Wahyu Jatmika menyesalkan tindakan yang merugikan kliennya tersebut. Sebab tak hanya Wardoyo dan santrinya, warga sekitar juga merasa diresahkan. Pihaknya saat ini tengah berupaya untuk melakukan pengaduan.
"Kami juga akan berupaya melakukan pengaduan serta pelaporan ke Polda Jatim agar upaya pengrusakan, dan penganiyaan seperti ini tidak lagi berlanjut," jelasnya.
Sementara itu, terkait aksi teror tersebut, Kasi Humas Polresta Sidoarjo Ipta Tri Novi Handono mengatakan, kasus tersebut masih dalam penyelidikan petugas. "Masih lidik," ujarnya singkat. (far/vga) Editor : Vega Dwi Arista