Misalnya, masih banyak yang menulis apotik, padahal yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah apotek. Fenomena ini ada di sekitar masyarakat.
Balai Bahasa Jawa Timur menilai minat masyarakat masih minim mengikuti uji kemampuan Berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab tidak ada dorongan yang kuat dari pemerintah daerah ataupun standar khusus rekrutmen pekerja di sebuah perusahaan.
Sekarang, justru masyarakat lebih mengenal tes kemampuan berbahasa Inggris atau yang lebih dikenal ToEFL, Test of English as a Foreign Language ataupun International English Language Testing System (IELTS).
Padahal untuk mengetahui kemahiran berbahasa Indonesia yang baik dan benar secara lisan dan tulisan bisa dilakukan melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).
Kepala BBJT Asrif berharap, pemerintah daerah bisa memberikan regulasinya. Agar standar ukuran kemahiran berbahasa Indonesia masyarakat Jatim, khususnya Sidoarjo ini bisa terpantau dengan jelas. ”Bisa juga sebagai persyaratan jadi pegawai, bahkan guru juga sangat penting untuk diikutkan UKBI. Bisa juga sebagai syarat akreditasi sekolah,” harap Asrif.
Konsep ToEFL, IELTS dan UKBI sama. Dalam UKBI terdapat komponen soal mendengarkan, merespons kaidah, membaca, menulis dan berbicara yang dikerjakan dalam durasi waktu tertentu.
Hasilnya dapat diketahui melalui predikat dan skor. Dari predikat terbatas dengan skor 251 - 325. Sampai predikat istimewa dengan skor 725 - 800.
Kepala Tata Usaha BBJT Ary Setyorini menambahkan, banyak sekali perguruan tinggi yang ikut UKBI. Selain untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesianya, sekaligus sebagai sertifikasi pendamping kelulusan. ”Bahkan ada PTN di Surabaya itu justru jurusan kedokteran yang diikutkan. Jurusan bahasanya malah tidak diikutkan,” katanya.
Jadi UKBI itu sarana untuk mengukur kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia lisan dan tulis. Yang diujikan adalah bagaimana memahami pendengaran, memahami bacaan, menulis, dan berbicara. "Selain itu UKBI juga menguji seseorang dalam penerapan kaidah bahasa Indonesia,” jelas Ary.
Kemahiran berbahasa Indonesia sejatinya harus dimiliki seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya dibiasakan dari rumah, sekolah. Seharusnya hingga ke perguruan tinggi dan dalam pekerjaan.
BBJT mencatat minat UKBI para mahasiswa yang mencapai 80 persen. Sementara 20 persen sisanya diminati para guru, karyawan dan masyarakat umum serta pelajar. Yang menggembirakan, datanya terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. (rpp/nis) Editor : Nofilawati Anisa